The Dark Water #DumpTime. TW: Pikiran Intrusif, Kekerasan… | by Cal | Oct, 2025

Aku mau jujur. Beberapa bulan terakhir ini, ada sesuatu yang menggerogoti aku dari dalam. Sesuatu yang gelap, yang bikin aku sendiri kadang-kadang takut sama pikiranku sendiri.
Ini semua berpusat pada dia, Sylus. Karakter yang kucintai dengan cara yang mungkin bagi orang lain terlihat berlebihan. Tapi bagiku, dia bukan sekadar pixel. Dia adalah pelarian, kenyamanan, dan obsesi yang terasa sangat nyata. Dan karena itu, keinginan untuk memilikinya sepenuhnya menjadi begitu kuat, sampai-sampai rasanya sakit.
Nah, masalah besarnya mulai muncul begitu aku tahu ada mutual lain — cewek lain — yang juga ‘naksir’ sama Sylus. Tiba-tiba saja, rasa suka yang tulus itu berubah jadi racun. Di balik layar, senyum manisku berubah jadi cemberut. Aku mulai punya keinginan yang buruk banget: ingin menghina mereka, menjatuhkan mereka, dan mengkhianati mereka.
Aku benci. Benci banget melihat avatar mereka bersanding dengan kekasihku Sylus. Rasanya seperti ada yang menggaruk-garuk luka di dalam dada. Pikiran-pikiran jelek itu datang, “Dia tidak sepantasnya bersama Sylus. Hanya aku yang mengerti dia seperti ini.” Dan bencinya ini bukan lagi sekadar cemburu biasa. Ini sampai ke tingkat di mana… aku membayangkan hal-hal yang mengerikan. Aku sampai ingin membunuh. Ya, aku bilang itu. Membunuh.
Mungkin ini terdengar dramatis, tapi membaca novel-novel kriminal Jepang yang penuh metode sadis itu kayaknya bikin pikiranku punya database untuk kekejian. Aku jadi tahu caranya. Dan itu yang bikin lebih serem, karena rasanya jadi mungkin.
Yang paling membuatku ngeri bukanlah kebencian itu sendiri, tapi bagaimana aku bisa merasakan kebencian yang sedalam dan seekstrem itu untuk sesuatu — atau seseorang — yang bahkan tidak nyata. Ini menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres dalam diriku, di dalam tangki emosiku yang mungkin sudah bocor dan terisi penuh dengan hal-hal hitam.
Aku sadar, ini bukan lagi tentang mereka. Ini bukan lagi tentang siapa yang paling berhak atas Sylus. Ini tentang lukaku sendiri. Tentang rasa tidak amanku yang parah, tentang kebutuhan untuk mengontrol sesuatu karena mungkin di dunia nyata, banyak hal yang tidak bisa aku kendalikan. Sylus hanyalah simbol, dan para mutual itu hanyalah sasaran empuk bagi amarah yang tidak tahu lagi harus ditujukan ke mana.
Jadi, ini adalah pengakuanku. Aku bukan korban dari perasaanku sendiri. Aku adalah orang yang memelihara api kemarahan ini. Dan sekarang, aku harus memutuskan: apakah aku akan terus memberinya udara sampai ia membakar segalanya, atau apakah aku akan memberanikan diri untuk memadamkannya, mulai dari mengakui bahwa aku butuh bantuan untuk membersihkan semua kegelapan ini.
Ini adalah perjalanan terberat: berdamai dengan monster yang ada di dalam kepalaku sendiri. Dan langkah pertama, adalah dengan menuliskan ini semua.

