Sudah Waktunya. Ayunan langkahku semakin cepat tatkala… | by Annisa Nurul sabrina | Oct, 2025

127be4Ja K7qYf7d4jleEUw.jpeg

Press enter or click to view image in full size

Ayunan langkahku semakin cepat tatkala pengumuman kedatangan kereta Logawa relasi Jember — Purwokerto menggema di udara, memacu siapapun yang berstatus sebagai calon penumpangnya untuk segera bangkit dari posisi masing-masing demi menghindari hangusnya tiket. Aku mengarahkan kakiku ke mesin check in otomatis dan menempatkan wajahku tepat di tengah layar hingga bunyi ‘klik’ terdengar dari mesin tersebut. Sungguh sangat membantuku yang kini tengah kerepotan membawa satu buah koper hitam berukuran 22 inci di tangan kanan, 2 buah plastik berukuran sedang di tangan kiri, sebuah tote bag di pundak kanan, tas selempang di pundak kiri, dan tak lupa sebuah tas ransel berwarna hijau army yang bertengger manis di punggung. Beberapa kali tubuhku terhuyung ke depan akibat tertabrak orang yang sama tergesanya denganku. Kata maaf banyak kuterima, tetapi hanya anggukan dan senyum tipis yang mampu kuberikan.

Bunyi roda koper yang beradu dengan ubin berwarna cokelat muda kian samar, seiring dengan tubuhku yang berbalik arah hanya untuk melemparkan senyum terbaikku untuk terakhir kalinya kepada empat orang di sana. Dengan susah payah, kulambaikan tanganku ke udara setinggi yang aku bisa, masih dengan senyuman yang setia terpancar dari wajah. Mereka membalas lambaian tanganku. Bahkan senyum sumringah yang memperlihatkan deretan gigi hingga membuat mata melengkung lembut yang terpancar dari wajah-wajah itu itu tak sedikitpun memberi ketenangan pada diri. Sesuatu terucap dari mulut mereka yang kuyakini sebagai kalimat perpisahan. Aku tidak tahu pasti karena setiap kata yang meluncur dari sana teredam oleh suara bising lokomotif yang kian mendekat. Ah, kereta sudah datang rupanya.

Alunan lagu Sepasang Mata Bola mengiringi langkahku yang melaju dua kali lebih cepat dari sebelumnya menuju ular besi itu. Lagu yang sangat akrab di telinga selama empat tahun belakangan; menyambut yang datang dan melepas yang pergi. Tak sekalipun aku menoleh ke belakang setelahnya. Peluh yang semakin deras mengalir ke sekujur tubuh pun tak kuhiraukan. Lantas kudaratkan tubuhku di atas kursi berwarna cokelat muda yang tidak terlalu empuk namun cukup membuatku nyaman untuk 2 jam 46 menit ke depan.

Lengkingan peluit panjang yang disusul dering klakson memecah keheningan di dalam gerbong. Dan tiba saatnya kereta bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Sangat perlahan, namun tanpa keraguan. Memisahkanku dengan orang-orang tersayang tanpa tahu belas kasih. Bergerak semakin cepat seolah tidak memberiku kesempatan barang sedikitpun untuk sekedar menoleh ke belakang, apalagi berlari berputar arah untuk memeluk kembali kepingan diri yang tertinggal di belakang sana.

Lalu aku menyadari, bahwa kini memang sudah waktunya.

Penaku tak lagi mampu untuk menorehkan tinta di atas kertas yang penuh coretan ini.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *