Sial tidak mengenal hari. Aku gak nyangka kalo lagu kesukaanku… | by Mima GP | Aug, 2025

16CiyZzzHe6wVXjAypSMwiQ.png

Press enter or click to view image in full size

Aku gak nyangka kalo lagu kesukaanku ini akan terjadi, tapi cuma bagian lirik berikut:

drag me head first, fearless.

Ada-ada saja hidup ini. Aku mulai berpikir hidupku ini ber-genre komedi, slice of life, dengan sedikit bumbu drama. Jadi begini.

Aku akan memulai cerita ini dengan sebuah temuanku. Ketika sedang menunggu lampu merah berganti hijau, aku baru menyadari ada lip-stain atau bekas lipstik di kaca helmku bagian dalam. Loh, kok bisa? Mau dimaju-majuin juga mulutku ini, gak akan nyampe buat menyentuh kaca itu.

Press enter or click to view image in full size

Lalu aku ingat! Aku baru saja jatuh dari motor, head first!! 😀

Pada hari Kamis pagi yang indah, aku pergi ke toko ATK. Lalu hendak kembali ke kos untuk mengambil printilan merchandise yang akan dibawa ke pameran minggu depan. Aku (dan kepalaku) sangat penuh dengan persiapan untuk pameran buku di kamp mahasiswa di Jakarta. Ribuuuut sekali kepalaku, jadi sewaktu naik motor pun, aku tetap berpikir. Harus siapin ini, bikin desain ini, habis ini kirim ke sini, cetak ini, beli ini dan terima ini. Dll. Dll.

Sudahlah aku buru-buru, kepalaku ramai, aku menyetir agak kencang. Aku berbelok ke gang dekat kosku. Padahal aku sudah biasa lewat, tapi waktu itu aku lumayan minggir-minggir di kiri karena di seberangku, ada mobil yang juga akan masuk ke gangku. Aku lupa bahwa di situ ada palang besi yang dipasang miring seperti sudut segitiga.

Duakkhhh!

Kepalaku terbentur palang itu keras sekali! Gerakannya benar-benar animatic. Kepalaku terdorong ke belakang tapi tanganku masih ngegas si Beat merah, jadi aku terjungkal ke depan dan jatuh bersamaan dengan motor malangku ini. Seingatku aku jatuh ke sisi kanan dan motorku jatuh dengan kondisi mesin masih menyala (kasihan sekali si merah).

Mas-mas pegawai toko jual galon dan air segera menolongku. “Mbak?! Kok bisa jatuh?! Gak papa Mbak?” ucapnya sambil ikut panik.

Aku berdiri dengan badan gemetar, memeriksa kepala, kaki, tangan dan tubuhku. Tidak ada yang lecet, tidak ada yang berdarah maupun sobek. Tanganku refleks memegang kacamataku, ohhh untungnya masih utuh (mahal soalnya wkwk). Helm-ku pun bahkan masih terpasang sempurna di kepalaku dan tidak ada pecah sama sekali! Syukurlah! Hanya bagian kanan motorku ada sedikit retak.

Aku nyengir ke mas itu, “Hehe, nabrak palang, Mas”. Singkat cerita, mas itu membantu menyalakan kembali motorku dan aku pun melaju ke kos. Sesampainya di kos, aku berbaring sebentar dan bergumam, aku ki mau ngopo toh..

Aku mulai berpikir, kalau kayak gini, siapa yang salah? Tapi aku juga merenung, mungkin memang dalam hidup, ketika sesuatu hal buruk terjadi, kita gak perlu repot cari siapa yang salah. Ya bisa saja aku yang salah karna tidak hati-hati (in my defense, aku gak bisa lihat palangnya karen tertutup bendera) atau karna aku lupa ada palang itu, ya bisa saja pengelola kompleks yang salah karna menempatkan plang yang tidak ramah pengguna jalan ini, dll dll.

Namun, daripada spiraling in my thoughts, aku hanya cukup menerimanya sebagai “sial tidak mengenal hari”. Mungkin memang, itu terjadi karna Tuhan ingin menginterupsiku. Seakan Tuhan bilang “Nduk, awakmu ketokane sibuk dhewe.. Leren sik po” (menurutku sih wkwk)

Tapi aku juga jadi teringat, di hari Rabu, aku ikut baca bareng dan saat itu pas banget kami baca di bab tentang bersyukur. Gary Thomas menulis

“Jika kita tidak mengucap syukur, kita membahayakan kestabilan rohani kita … . Jika Allah mengizinkan kita melewati jalanan rohani yang datar saja, maka otot rohani kita tidak akan kuat.” (The Glorious Pursuit, bab 14).

Aku diingatkan akan dua hal.

Pertama, sewaktu tidak terjadi apa-apa, ketika hidup kelihatannya datar saja dan tidak ada penderitaan berat tertentu, di saat itulah masa terbaik untuk kita menerima kebenaran Firman Tuhan. Namun, hal itu sebenarnya menyiapkan kita bilamana ujian itu datang. Karena kita sudah terlatih, maka otot rohani kita akan kuat dan siap untuk membuat kita terus percaya pada-Nya. Menurutku, kejadian ini adalah penderitaan “kecil” yang cukup bikin syok, terutama untuk tubuhku. Sepanjang aku tinggal di Surabaya selama tiga tahun belakangan, aku tidak pernah jatuh dari motor. Ini jadi yang perdana. Saat itu terjadi, aku benar-benar segera mengucap syukur karena ada buanyakkk kemungkinan lain kalau kecelakaan tunggal ini bisa berakibat fatal. Aku bisa saja kehilangan gigiku, kepalaku bisa saja terbentur sangat keras hingga aku tak sadarkan diri, aku bisa saja terjepit motor, ahh banyak lagi.. Aku sungguh bersyukur Tuhan menolongku (kayaknya malaikat yang menjaga saya agak working overtime 🤣)

Kedua, bicara otot rohani, aku bersyukur pakai helm, walau cuma mondar-mandir naik motor dekat kos dan kantor. Sungguh, pakai helmmu kawan! Itu akan menjagamu. Aku sadar betul aku bisa “selamat” karna helmku ini begitu kuat. Terjungkal sampai mencium kacanya pun tak membuat helm itu pecah wkwk. Kadang kita berpikir, aturan Tuhan terasa mengekang. Namun aturan itu sebetulnya melindungi dan membebaskan kita. Ya sama kayak helm ini. Dia menjagaku dari benturan dan hal berbahaya lain di jalan, dan membebaskanku untuk bisa naik motor ke mana aja dengan aman. Belajar mengucap syukur setiap hari juga akan menjagai kita dari unclean thoughts tentang Tuhan maupun hidup ini.

Pada akhirnya, njarem-nya baru hadir hari ini. Lengan kananku mulai pegal dan ternyata tulang betis kananku juga sakit. Walau begitu, aku bersyukur aku selamat (secara literal).

Sekarang, misteri lip-stain itu sudah terpecahkan. Tiap kali aku melihat bekas lipstik itu, aku akan mengingat bagaimana Tuhan menyelamatkan kepalaku dari benturan seusai menabrak palang. Setidaknya, aku masih selamat!

Press enter or click to view image in full size

ini dia palang sialan itu.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *