Semua ‘Seandainya’ di Kepalaku.. Lagi dan lagi, tentang berharap . | by maecvllyn | Nov, 2025

1762025226 bc1f8416df0cad099e43cda2872716e5864f18a73bda2a7547ea082aca9b5632.jpeg

Lagi dan lagi, tentang berharap .

Aku duduk di antara diam dan doa, menatap langit yang sama setiap malam, sambil memohon agar Tuhan mendengar lebih cepat.
Aku tahu, bahwa doa tak berjalan sendirian. Ia perlu ditemani usaha, pundak yang siap sakit, dan tangan yang terus bergerak. Tapi bagaimana jika semua itu sudah kulakukan… dan semesta tetap menjawab dengan sunyi?

Hidupku belakangan ini dipenuhi rasa takut, pasrah, dan harapan besar dari orang-orang sekitarku mengenai masa depan. Aku selalu berusaha untuk tidak memberi mereka banyak janji, tapi entah bagaimana, mereka tetap menaruh ekspektasi yang besar padaku. Sungguh, itu melelahkan.
Aku sendiri pun kebingungan harus berusaha seperti apa… karena pada akhirnya, jika gagal, yang kulakukan hanya diam di kamar, menatap langit-langit, sambil terus berpikir bahwa dunia mungkin akan lebih tenang tanpaku.

Hari-hariku banyak diisi oleh khayalan tentang menjadi orang sukses: sukses dalam pendidikan, ekonomi, bahkan percintaan.
Rasanya seperti menulis novel beribu halaman, tapi semuanya hanya hidup di kepalaku.

Hal yang paling lucu sekaligus miris adalah… aku sering membayangkan dicintai oleh orang yang selama ini kuimpikan. Aku membangun kisah cinta yang bahkan belum terjadi. Bertahun-tahun aku sendiri, tidak tertarik menjalin hubungan apa pun, bukan karena tak ada kesempatan, tapi karena aku percaya: diriku belum pantas.
Meskipun pun Tuhan mengabulkan, mungkin aku akan mundur perlahan,
aku merasa diriku tidak cukup dari segi penampilan, tidak cukup dewasa, dan tidak cukup kuat untuk dicintai seutuhnya.

Orang tuaku selalu berkata bahwa menjalin hubungan di usia muda hanya membuang waktu dan menambah dosa. Dan aku sangat setuju.
Mungkin itu alasan kenapa aku tetap sendiri hingga sekarang, meski setiap malam pikiranku kembali melayang kemana-mana. Aku membayangkan keliling Jakarta bersama seseorang, bermain musik bersama, hingga menulis lagu, bertukar hobi, dan mengalami hal-hal kecil yang hangat.
Mungkin aku memang harus menunggu. Harus sabar… sampai akhirnya aku siap menjalani itu dalam ikatan yang lebih benar. Aku benar-benar berharap bisa sampai di tahap itu.

Selain soal cinta, ada satu pertanyaan yang terus menghantui kepalaku:
bagaimana jika aku tidak bisa mencapai masa depan yang selalu kubayangkan? Bayangan itu berputar di benakku tanpa henti membuatku bertanya, “Kalau tidak sampai… apakah hidupku masih berarti?”

Kadang aku iri pada orang-orang yang tampak tahu harus menuju ke mana. Yang bisa berlari tanpa banyak ragu. Sementara aku… masih berjalan sambil menatap langit, mencoba melihat tanda-tanda. Aku ingin percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin yakin bahwa semua mimpi tidak datang hanya untuk menyiksa.
Tapi yang tersisa kadang hanya ketakutan dan harapan kecil yang terus kupeluk meski hampir pudar.

Mungkin jawaban dari semua “bagaimana jika…” akan datang ketika aku berani maju, meski langkahku ragu.
Mungkin yang bisa kulakukan sekarang hanyalah tetap mencoba, meski perlahan. Dan berharap… suatu hari nanti, semua yang kusimpan dalam diam akan menemukan tempatnya. ^_^

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *