Sebuah Pelajaran dari Dua Pertemuan Sederhana | by dara.renjani | Nov, 2025

Kemarin sore, di depan kasir Indomaret, aku menyaksikan sesuatu yang sederhana, tapi menampar pelan hatiku.
Setelah mengambil beberapa kebutuhan di rak, aku berdiri di antrean kasir yang ramai. Orang-orang berlalu-lalang, suara mesin kasir berdenting, dan aroma roti dari rak depan menyeruak di udara.
Di tengah suasana itu, mataku tertuju pada dua sosok ibu-ibu.
Yang satu tengah membayar barang belanjaannya, sementara di antrean sebelah, seorang ibu lain berdiri dengan pakaian lusuh, memegang sebotol air mineral. Dari gerak-geriknya, aku tahu beliau seorang pengemis.
Tanpa ragu, ibu yang sedang membayar itu menoleh dan berkata lembut, menawarkan untuk membayar semua belanjaan si ibu pengemis, meski hanya sebotol air. Tak berhenti di situ, ia juga mengajaknya mengambil beberapa roti dari rak.
Adegan itu sederhana, tapi ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Tenggorokanku terasa hangat, mataku sedikit basah.
Di tengah hiruk-pikuk Indomaret, aku diam sejenak, menyaksikan kebaikan kecil yang terasa begitu besar.
Dalam perjalanan pulang, aku masih memikirkan momen itu. Entah kenapa, rasanya seperti disentuh sesuatu di dalam diri. Malamnya, aku menuliskannya di buku harian karena tak ingin lupa pada rasa haru yang ditinggalkannya.
Pagi berikutnya, di bawah pohon rindang dekat jalan menuju kantor, aku melihat seekor kucing meringkuk.
Tubuhnya gemetar pelan, matanya sayu menahan sakit. Aku membuka tas, mengeluarkan sedikit makanan kucing yang selalu kubawa, dan meletakkannya di dekatnya. Namun, kucing itu hanya menatap dan tak bergeming, seolah lelah untuk sekadar bergerak.
Aku terpaksa pergi karena waktu sudah mendesak, tapi sepanjang perjalanan, pikiranku terus kembali pada kucing itu.
Terkadang, hal-hal kecil seperti itulah yang mengajarkan kita tentang kebaikan – tentang memberi tanpa pamrih, dan tentang perasaan tak berdaya saat kita tak bisa berbuat banyak. Dunia mungkin tak selalu ramah, tapi selalu ada celah kecil di mana kebaikan tumbuh, bahkan di tempat sesederhana Indomaret, atau di bawah pohon yang sepi.

