Saat kamu harus ‘Menyerah’. Menantang Stereotip “Jangan Menyerah” | by Muhammad Raihan | Nov, 2025

Analogi Dua Sisi Koin
Nah, ‘definisi hidup’ yang mengakar inilah yang kemudian menjadi ‘nilai’ yang kita bawa. Nilai inilah yang akan menentukan bagaimana kita melihat kehidupan.
Bagi aku, hidup itu kayak 2 sisi koin teman-teman. Disatu sisi kita mempercayai nilai murni yang kita bawa. Disini kita akan menemukan orang yang sama dengan kita, orang yang memiliki kesukaan yang sama, obrolan yang sama, bahkan nilai yang sama. Disisi ini kita akan menyebutnya supportive.
Disisi lain, teman-teman akan menemukan orang yang memiliki kepercayaan yang sangat berbeda. Kadang kayak langit dan bumi, mau seberapa berusaha pun kita mengobrol dengan mereka, hingga mungkin berdarah-darah apa yang kita percayai ga akan sampe ke pemikiran mereka. Disisi ini mari kita menyebutnya enemy.
“Tapi bagaimana cara kita menyebut orang2 yang berada ditengah?” Nah disini aku mencoba mematahkan kepercayaan teman2 dulu ya (izin kecil).
Masyarakat kita sudah terbiasa tumbuh dengan pilihan teman2, dan pilihan2 ini mengantarkan kita kepada kepercayaan bahwa jawaban itu jelas, kalau engga “iya” maka “tidak” (atau terserah kayak cewe mungkin? *bercanda). “Maksudnya apa ya?” Teman-teman yang membaca tulisan ini pasti pernah ujian dengan pilihan ganda kan? Sebenarnya hal ini menumbuhkan kebiasaan buruk loh yang mana berakibat cara berfikir kita dibatasi sebuah ruang yang tidak terlihat. Yang mana ruang ini mempersempit cara pandang kita terhadap masalah dan selalu berakhir dengan statement “Kalau ga ini ya ini, ga mungkin ada jawaban lain.” Pernah dikondisi ini? Untuk menjaga tulisan ini lebih pendek mungkin tulisan tentang itu akan kita titipkan ke tulisan lain.
Orang2 yang ditengah tadi aku akan defenisikan sebagai koin yang “berbeda” dari yang kita punya. Waduh pasti bingung ya? Sama sih aku bingung juga (diawalnya).
Teman-teman perlu tau kalau manusia itu, setiap orangnya memiliki kepribadian yang berbeda. Tergantung bagaimana lingkungannya, seperti yang aku beri contoh diatas tadi. Kalau belum ngerti, coba scroll lagi diatas pada bagian defenisi hidup.
Gimana? Udah nangkep belum? Mari aku berikan sedikit contoh agar kita sama-sama bisa lebih mengerti. Kita akan belajar pelan-pelan.
Misal, koin yang kita miliki adalah “Aku percaya tujuan hidup itu ga semata-mata tentang uang. Liat aja beberapa penelitian bla bla bla uang itu ga bakal bisa membuat hidup bahagia bro” Ini yang kita percaya oke?
Namun, bagi orang yang hidupnya dipenuhi dengan keterbatasan keuangan pasti akan bilang “Wah mana bisa gitu. Kami aja dapat uang untuk sekedar makan sehari-hari aja susah dulu, dan akhirnya sukses sekarang. Sudah jelas uang adalah segala-galanya dalam hidup” Ini sisi berlainan dari koin kamu.
Sedangkan dengan sisi koin yang lain, orang-orang inilah yang bersifat netral dengan pernyataan kamu. Orang yang iya-iya aja. Orang inilah yang bisa kamu tarik menjadi pengikut kamu, atau mungkin dia bisa saja memiliki kepercayaan yang sama dengan enemy kamu.
Sejauh ini sudah nangkep contohnya belum? Kalau belum dibaca ulang-ulang aja lagian gada yang desak kamu buat ngerti cepat disini.
Oke kita anggap teman-teman sudah ngerti dengan contohnya. Kalau dikehidupan nih, 2 contoh orang diatas akan ribut nih. “Yang benar ini woi” “Lu mah enak hidupnya dari dulu berkecukupan” “Ga pernah rasain sih gimana rasanya jadi kita dulu kesusahan” “Sok-sok an bijak lu” Beginilah respon dari enemy dari nilai yang kamu buat. Daripada capek-capek rewel ke enemy, mari ‘menyerah’ saja, dan kamu bisa lebih fokus ke koin yang berbeda. Koin dimana ada orang-orang netral yang bisa kamu pengaruhi, dan tentunya juga ke diri sendiri.

