Pulih Sekejap atau Selamanya?. Ternyata, kemarin hanyalah sebuah jeda… | by aL, between us | Nov, 2025

1einKo5D OV9DaPyXXdtNdQ.jpeg

Ternyata, kemarin hanyalah sebuah jeda.
Sebuah titik koma dalam cerita yang sempat kupikir sudah diakhiri oleh waktu.

Press enter or click to view image in full size

Aku sempat meyakinkan diri bahwa tak ada lagi alasan untuk menoleh ke arah belakang, bahwa semua sudah tuntas dan tak perlu lagi diulang. Namun, semesta punya caranya sendiri untuk bermain ia kembali mempertemukan kami lagi, seolah berkata, “Ini semua belum selesai, masih ada sesuatu hal yang perlu untuk kalian pahami.”

Pertemuan itu terasa aneh.

Tidak ada kata yang benar-benar pas, tidak ada gerak yang benar-benar nyaman. Tapi di balik canggung yang menempel di udara, ada sesuatu yang familiar, yang menenangkan, yang dulu pernah terasa seperti rumah. Seolah waktu berhenti sejenak, memberi ruang bagi kami untuk sekadar bernapas dan menatap, tanpa harus menjelaskan apa pun.

Sayangnya jauh di dalam lubuk hatiku, ada ketakutan yang tak bisa kutepis.
Aku takut jika kejadian yang sama akan terulang kembali,

bahwa kami hanya sedang berjalan menuju kearah luka yang sama, walaupun dengan cara yang berbeda.

Aku takut menghadapi hari-hari di mana aku kembali belajar menenangkan diri dari seseorang yang dulu membuatku merasa hidup. Aku takut menunggu pesan yang tidak lagi datang, takut membiasakan kehadiran yang suatu hari bisa pergi begitu saja tanpa aba-aba.

Tetapi di sisi lain, menolak kesempatan ini juga rasanya begitu menyesakkan.

Ada bagian kecil dalam diriku yang masih percaya bahwa semesta tidak pernah mempertemukan dua jiwa tanpa alasan.

Mungkin saja ini bukanlah tentang dua orang yang kembali mengulang kisah lama, tapi tentang menuntaskan sesuatu yang ternyata dulu pernah tertinggal. Mengenai pemahaman yang ternyata dahulu gagal untuk kami pahami karena terlalu sibuk mempertahankan ego masing-masing. Aku tidak lagi ingin memkasakan dan menuntut kepastian seperti dulu, karena aku tahu, hal-hal yang tumbuh perlahan seringkali bertahan lebih lama.

Mungkin benar, waktu telah mengubah banyak hal.

Kami pernah kehilangan arah, tapi mungkin justru karena itulah semesta memberi kami kesempatan ini agar kami belajar berjalan berdampingan, bukan berseberangan.

Entah ke mana semua ini akan bermuara, aku tetap memilih untuk percaya pada semesta. Bahwa pertemuan kembali ini bukan berarti kami harus menulis akhir yang sama melainkan awal yang baru, awal yang lahir dari keberanian untuk mencoba, dari kesediaan untuk memaafkan, dan dari cinta yang tak lagi keras kepala seperti dulu.

Karena mungkin, pertemanan dan rasa sayang yang sebenarnya bukanlah tentang siapa yang tak pernah pergi, melainkan tentang siapa yang memilih untuk kembali dan memilih untuk tetap tinggal, meski tahu betapa rapuhnya hati yang pernah retak sebelumnya.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *