#PROLOG. ‘a story of us beggin’ | by Tanaya | Aug, 2025

1754591740 bc1f8416df0cad099e43cda2872716e5864f18a73bda2a7547ea082aca9b5632.jpeg

‘a story of us beggin’

Seorang anak kecil berjalan ceria sambil mengayunkan tas selempangnya. Tubuh mungilnya melangkah ringan saat ia menenteng tas kecil, memasuki ruang tamu melalui pintu besar, lalu mengetuknya perlahan.

“Permisi, Bimbim ada?” tanya anak itu.

Sepasang mata yang sedari tadi fokus pada layar Nintendo pun melirik ke arah suara tersebut. “Ada, masuk aja.

Tanpa berkata-kata lagi, anak perempuan itu masuk dan duduk di sofa yang berseberangan dengan laki-laki tersebut.

“Almera!” Tiba-tiba seorang anak laki-laki sebaya datang menghampirinya. “Tunggu sebentar ya, Mer. Aku mandi dulu, habis itu kita berangkat ke tempat les bareng supirku di depan.”

Almera mengangguk sambil tersenyum, lalu duduk kembali menunggu. Bimbim meninggalkannya di ruangan itu, sementara Almera mengamati sekeliling. Tepat di depannya, seorang bocah laki-laki yang lebih tinggi sekitar tiga jengkal darinya terlihat sibuk memainkan Nintendo, sesekali menghela napas panjang.

Merasa penasaran, Almera mengalihkan perhatiannya ke ponsel BlackBerry miliknya, membuka broadcast dan status teman-temannya. Tiba-tiba, seseorang menyodorkan sebotol air kepadanya.

“Mau minum?” tanya bocah laki-laki itu.

Mera menerima botol itu dengan senyum kecil. “Makasih, Kak.”

Ia spontan menyebut “Kak” karena nalurinya mengatakan bahwa bocah itu lebih tua darinya.

“Kak? Tau dari mana aku lebih tua dari kamu?” tanyanya heran.

Almera sedikit kikuk mendengar pertanyaan itu. “Hmm… dari tinggi badan. Kakak lebih tinggi dari aku.”

“Bimbim juga lebih tinggi dari kamu, tapi kamu nggak panggil dia kakak?” tanyanya lagi.

Mera terdiam, lalu memperhatikan bocah itu dengan seksama. “Karena kaka pakai seragam anak SMP. Aku sama Bimbim masih sih masih SD.”

Bocah itu mengangguk, tampak cukup puas dengan jawaban Mera. Ia kembali fokus memainkan gamenya.

“Kaka siapa Bimbim?” tanya Mera.

“Kaka nya” jawabnya singkat.

“Oh ya? Setahuku Bimbim anak tunggal.”

“Aku kaka sepupunya,” jawab bocah itu lagi “ — Kamu tau sepupu itu apa?” tanya nya balik.

“Tau lah, udah belajar dari kelas dua,” jawab Mera cepat, tak mau kalah.

“Sekarang kelas berapa?”

“Kelas lima.”

“Kamu sekelas sama Bimbim?”

“Iya.”

“Ohh.”

Setelah percakapan itu, mereka terdiam. Mera lalu menatap bocah itu. “Nama Kaka siapa?”

Bocah itu tersenyum jahil. “Mau tau aja atau mau tau banget?”

“Ih, kok gitu?” Almera merengut kesal.

“Aku aja nggak tahu nama kamu,” balasnya.

“Kan tadi disebut Bimbim. Kaka nggak denger?”

Bocah itu menggeleng.

Almera menghela napas.

“Namaku Almera.”

Bocah itu melirik sekilas “Oh, oke.” lalu kembali ke gamenya.

“Jadi nama Kaka siapa?” tekan Mera.

Bocah itu tertawa kecil. “Kepo banget sih, anak kecil. Aku nggak kenalan sama bocil.”

Mera menatapnya sinis. “Nyebelin sekali anak ini,” batinnya.

Bocah itu sadar akan tatapan sinis Mera lalu tertawa. “Haha, bercanda kok. Jangan ngambek gitu dong. Nanti aku kasih tau abis ngecas Nintendo-ku, ya.”

Bocah itu masuk ke dalam kamar. Tak lama, Bimbim keluar dengan pakaian rapi. “Mera, maaf lama ya. Aku udah siap, yuk berangkat.”

Mera mengangguk, berdiri, tapi masih dengan hati yang sedikit kesal. Bimbim yang menyadari ekspresinya bertanya, “Kamu kenapa? Berantem sama sepupuku?”

Almera menggeleng. “Enggak, cuma kesel sedikit aja. Sepupumu aku tanya namanya siapa, malah dijawab kepo dan katanya dia nggak kenalan sama bocil.”

Bimbim tertawa kecil.

“Dia memang jahil, becandaannya makin ngeselin, tapi aslinya baik kok.”

“Iya, aku tau. Tadi dia juga kasih aku minum tanpa aku minta.”

Bimbim tersenyum. “Kaizam” kata Bimbim “ — Sepupuku namanya Kaizam.” Jelas Bimbim sambil masuk ke dalam mobil lebih dulu.

Sementara Almera bergumam, “Kaizam… hmm, namanya aneh kayak orangnya.”

Ia pun masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh supir.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *