Mata Batin Terbuka: Pengalaman Mistis Rahmat Faisal dari Kecil Hingga Dewasa | by A Rahmat Faisal | Sep, 2025

Sejak kecil saya selalu merasa ada yang berbeda dalam cara saya merasakan dunia. Bukan sekadar rasa, melainkan sesuatu yang lebih: bisikan, bayangan, sosok-sosok yang seringkali menampakkan diri di saat-saat yang tidak terduga. Nama saya A Rahmat Faisal, dan ini adalah rangkaian pengalaman mistis saya — dari melihat sosok Engkong setelah beliau wafat, mendengar panggilan nenek-nenek di pos lampu, bertemu sosok perempuan di semak-semak, hingga berhadapan dengan kesurupan dan membantu mengeluarkan makhluk yang menguasai orang yang saya cintai.
Saya menulis ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk berbagi, mencatat, dan mungkin memberi pemahaman bagi siapa pun yang pernah atau sedang mengalami hal serupa. Kisah-kisah ini mengajarkan saya banyak hal: tentang ketakutan, keberanian, iman, tanggung jawab, dan bagaimana sebuah pengalaman mistis dapat membentuk karakter seseorang.
Titik Awal: Engkong yang Datang di Tengah Malam (Kelas 1 SD, ~7 tahun)
Kisah ini bermula beberapa waktu setelah Engkong Rasim meninggal. Saya masih kecil, sekitar kelas 1 SD — usia tujuh tahunan. Malam itu saya tidur di ruang tamu bersama Nenek. Rumah sunyi seperti biasa; jam di dinding berdetak pelan, angin menyeret suara dari luar. Di tengah malam saya terbangun. Kepalamu tahu bagaimana rasanya ketika mata terbuka dan rumah terasa lain? Begitu pula saya.
Saya menoleh ke arah sofa, dan di sana — duduk dengan tenang — ada sosok kakek tua berseragam gamis putih. Kulitnya terlihat pucat, wajahnya familiar. Jantung saya berdetak keras. Rasa takut dan rindu bercampur jadi satu. Secara sadar saya tahu Engkong sudah wafat, namun di hadapan saya duduk sesuatu yang sangat mirip beliau. Saya menatap, ia duduk santai, seolah menunggu. Saya takut. Saya menutup mata, menutup diri dengan guling, dan berusaha tidur lagi. Saya tak bisa berkata apa-apa. Ingatan itu sampai kini tetap tajam: bukan mimpi, bukan bayangan samar — melainkan perjumpaan yang jelas, dingin, namun anehnya penuh ketenangan.
Sejak malam itu, perasaan saya pada dunia ghaib tidak lagi sama. Ada rasa bahwa ada “sesuatu” yang bisa menampakkan diri pada saya saat waktu dan tempat memperbolehkannya. Saya belajar menahan napas saat berbicara tentang hal ini — karena tak semua orang siap mendengar.
Panggilan di Pos: Nenek-Nenek yang Menghilang (Kelas 3 SD)
Beberapa tahun kemudian, saat saya kelas 3 SD, ada pengalaman lain yang menancap di memori. Waktu itu saya berjalan kaki menuju rumah Uwa (tante yang saya panggil Mama Aa) sekitar jam delapan malam. Jalanan sudah gelap, komplek sepi, dan saya melewati sebuah pos kecil seperti saung. Tiba-tiba suara lirih dari pos memanggil:
“Mau kemana, dek? Sini…”
Saya menoleh dan melihat seorang nenek duduk di pos. Suara itu lembut, memanggil seakan ingin menenangkan. Insting anak kecil membuat saya berbalik dan berlari. Tapi saat saya sempat menoleh lagi — hanya hitungan detik — nenek itu lenyap. Secara logika, saya tak mungkin melihat seseorang tiba-tiba hilang.
Saya lari ketemu tukang nasi goreng di dekat situ, nafas tersengal saya tanya, “Pak, tadi ada nenek di pos itu, kan?” Beliau balik lihat dengan bingung, “Dari tadi nggak ada siapa-siapa, Nak.” Saya kaget. Rasa takut mencengkeram, tapi juga rasa heran. Saya minta ditemani sampai pos, dan kami periksa — benar, kosong. Malam itu pulang ke rumah Uwa terasa panjang. Pengalaman itu mengajarkan saya satu hal: ada lapisan realitas lain yang kadang berinteraksi dengan kita, terutama ketika kita sedang sendiri.
Gadis di Pohon: Pertemuan di Belakang Rumah (Kelas 5 SD)
Pengalaman ketiga terjadi sekitar kelas 5 SD, setelah Mamang meninggal dan kami menempati kontrakan bersama Mama dan Bapak yang baru. Suatu malam saya ingin buang air kecil namun tidak berani mengganggu orang tua di kamar, jadi saya memilih ke semak-semak di samping rumah, dekat sebuah pohon. Saat saya sedang melakukan itu, saya menoleh — dan di situ, tak jauh dari saya, ada sosok perempuan seumuran saya. Wajahnya cantik, kulitnya sangat pucat, berpakaian long dress putih panjang. Ia jongkok, tangannya tersingkap, menatapku dengan tatapan kosong.
Saya berhenti, ketakutan langsung merayap, dan lari masuk rumah. Pengalaman itu begitu nyata, hingga saya tak berani lagi keluar malam-malam sendirian. Sampai sekarang, memikirkan wajah itu masih membuat bulu kuduk berdiri. Kejadian ini memperkuat keyakinan saya: entitas-entitas tertentu dapat muncul dalam wujud manusia, bahkan wujud anak-anak.
Kesurupan Mama: Malam-malam yang Panjang (Masa SMP)
Masuk SMP, keluarga kami menghadapi babak lain: Mama sering kesurupan. Malam-malam itu menjadi berat bukan hanya bagi Mama, tetapi juga bagi saya sebagai anak yang harus berhadapan dengan “makhluk” dalam tubuh yang saya cintai. Saya menjadi saksi bagaimana keadaan bisa berubah drastis: Mama tertidur lalu bangun dengan suara yang bukan suaranya sendiri, berjalan aneh, atau berteriak-teriak.
Tugas saya kala itu terasa sederhana namun menakutkan: saya harus berkomunikasi dengan makhluk yang menguasai tubuh Mama. Kadang saya membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kadang menyiram wajah Mama dengan air yang diberi garam, hingga makhluk itu perlahan pergi. Saya tidak mengklaim ini proses ilmiah; ini adalah pengalaman spiritual dan praktis yang saya lalui berkali-kali. Dari situ saya belajar untuk tetap tenang, berdoa, dan bertindak sesuai pengetahuan agama yang kami pegang.
Sosok di Ujung Kasur (Masa SMK, ~2010)
Kejadian lain yang menancap kuat terjadi saat SMK, sekitar tahun 2010. Kami tinggal di rumah dua lantai; saya tidur di kamar atas, Mama di bawah. Malam itu saat hendak tidur saya merasakan kehadiran di ujung kasur. Di sana berdiri sosok perempuan muda, wajahnya cantik namun pucat, berpakaian polo dan celana pendek, rambut sebahu. Ia mematung memandang saya.
Ketakutan membuat saya langsung bangkit dan turun ke bawah untuk membangunkan Mama. Setelah beberapa hari, saya baru berani tidur lagi di kamar atas. Pengalaman seperti ini mengajarkan saya untuk tidak menyepelekan firasat; seringkali, jika Anda merasakan kehadiran tiba-tiba, sebaiknya jangan tinggal diam.
Bayangan Berambut Panjang (Tahun 2015, Rumah Addawa 2 Jakasampurna)
Setelah beberapa perpindahan rumah, pada 2015 kami menempati rumah dekat sekolah, di Addawa 2 Jakasampurna. Saat pertama kali tinggal di sana, saya melihat sosok perempuan berambut sangat panjang, hingga hampir menyentuh lantai, berpakaian putih, wajah tertutup rambut, berjalan dari dapur menuju kamar saya lalu menghilang. Itu bukan bayangan samar — ia berjalan, menutupi wajahnya, lalu lenyap.
Kejadian ini makin memperjelas bahwa rumah-rumah yang kita tempati dapat “mewarisi” memori atau entitas, dan bahwa keberadaan mereka terkadang bisa berkaitan dengan sejarah rumah tersebut atau peristiwa sebelumnya. Meski demikian, saya tidak ingin segera menyimpulkan: setiap tempat punya cerita, dan tidak semua cerita itu harus menakutkan jika kita bisa memahaminya.
Bel yang Berbunyi Tanpa Sentuhan (Tahun 2016, Bimbel)
Pada 2016, saat saya sedang duduk santai di kantor bimbel saya di ruang kantor pada saat istirahat. Tiba-tiba bel di kelas atas berbunyi, padahal kelas tersebut kosong dan tidak ada yang menekan tombol bel di bawah. Saya memandang ke atas, santai saja — menganggap ini mungkin permainan “makhluk halus” yang ingin menyapa. Saya memilih tidak bereaksi berlebihan. Pengalaman ini mengajari saya satu hal matang: bukan semua fenomena harus direspons dengan ketakutan; beberapa bisa dihadapi dengan sikap tenang dan observasi.
Sering Diundang “Duel” oleh Makhluk yang Menguasai
Seiring bertambahnya usia, frekuensi pengalaman mistis saya tidak sepenuhnya hilang. Malah, saya seringkali harus berhadapan dengan orang yang kesurupan, dan beberapa entitas tampaknya “menyukai” saya — sering kali mereka mengajak saya beradu (metaforis). Saya mengalami momen ketika orang kesurupan seolah menantang, menyeret saya ke dalam konfrontasi spiritual. Namun pengalaman dan keberanian yang terasah membuat saya berangsur mampu menenangkan dan mengusir makhluk tersebut dengan bantuan doa, bacaan ayat, dan teknik sederhana yang saya pelajari dari pengalaman sebelumnya.
Saya tidak menyebut diri ahli; saya hanyalah orang yang mengalami dan belajar. Banyak kali saya merasa kelelahan, takut, bahkan trauma. Tetapi melihat orang kembali pulih pasca-kesurupan memberi kepuasan tersendiri — sebuah tanggung jawab sosial dan spiritual yang saya jalani.
Bagaimana Pengalaman-Pengalaman Ini Membentuk Saya
Dari semua kejadian itu, apa yang paling berkesan bukan sekadar takut atau sensasi horor. Melainkan pelajaran yang saya petik:
- Kehadiran spiritual itu nyata bagi sebagian orang. Mengabaikannya bukan solusi; memahami dan bertindak dengan penuh keyakinan agama dan kebijaksanaan lebih penting.
- Keteguhan iman dan pengetahuan agama membantu. Banyak pengalaman saya dihadapi dengan bacaan doa, ayat, dan ritual kebiasaan yang mendekatkan kita pada ketenangan.
- Empati dan tanggung jawab sosial tumbuh. Saat melihat orang yang terkena gangguan, saya merasa terdorong untuk membantu, bukan menertawakan. Mengulurkan tangan itu adalah tindakan kemanusiaan.
- Kemandirian emosional. Pengalaman mistis yang berulang membuat saya lebih tangguh, memahami batas kenyamanan, dan menjaga keseimbangan mental.
- Bukan soal menakuti, melainkan memahami. Banyak orang takut membicarakan hal ini karena stigma. Saya ingin mengubah sedikit paradigma: bahwa kisah mistis juga bisa menjadi bagian dari perjalanan spiritual dan pembelajaran hidup.
Cara Saya Menghadapi dan Menjaga Diri
Bagi pembaca yang mungkin juga mengalami hal serupa, berikut beberapa praktik yang saya lakukan berdasarkan pengalaman sendiri:
- Jaga spiritualitas: rutin shalat, membaca ayat-ayat yang menenangkan, dan menjaga hati dari kebencian.
- Gunakan pendekatan agama: bacaan dan doa yang diajarkan keluarga kami (misalnya bacaan Al-Qur’an, doa-doa perlindungan).
- Jangan panik: saat bertemu fenomena aneh, tetap tenang membantu menjaga kontrol.
- Mencari bantuan: kadang kita perlu meminta bantuan tokoh agama atau orang berpengalaman yang dapat dipercaya.
- Menjaga kesehatan mental: trauma harus ditangani dengan kepala dingin, berkonsultasi dengan orang yang memahami psikologi jika perlu.
- Menghormati pengalaman orang lain: jangan meremehkan atau mengejek mereka yang mengatakan pernah melihat atau merasakan hal hal supranatural.
Akhir Kata — Menerima, Bukan Menolak
Kisah-kisah mistis saya adalah bagian dari hidup saya. Mereka bukan sesuatu yang saya banggakan, tetapi juga bukan sesuatu yang ingin saya sembunyikan. Dari Engkong yang duduk di sofa sampai bel yang berbunyi sendiri, semuanya membentuk pemahaman saya tentang dunia yang lebih luas dari sekadar yang bisa dilihat mata.
Saya menulis ini agar siapa pun yang pernah mengalami hal serupa merasa tidak sendirian. Jika Anda membaca tulisan ini dan merasa ada gema dalam hati — entah itu rasa takut, penasaran, atau bahkan penolakan — ketahuilah: pengalaman spiritual adalah pribadi, dan setiap orang punya cara untuk menanggapi. Bagi saya, pengalaman-pengalaman itu mengajarkan empati, keteguhan, dan rasa tanggung jawab untuk membantu mereka yang kesulitan.
Terima kasih sudah membaca fragmen hidup saya ini. Jika Anda punya pengalaman serupa dan ingin berbagi, saya akan mendengarkan — tanpa menghakimi. Karena dalam banyak hal, mendengar adalah langkah pertama untuk saling menyembuhkan.
- Kata kunci utama: pengalaman mistis Rahmat Faisal, pengalaman supranatural, indra keenam, kesurupan dan penanganan, kisah spiritual Bekasi.
- Kata kunci turunan: penglihatan gaib, cerita mistis Indonesia, pengalaman melihat arwah, exorcism tradisional, pengalaman masa kecil supranatural.
- Meta description: “A Rahmat Faisal membagikan pengalaman mistisnya sejak kecil — dari melihat Engkong yang sudah wafat, kejadian kesurupan keluarga, hingga bagaimana ia belajar mengatasi dan membantu orang yang kesurupan. Kisah pribadi, refleksi, dan pelajaran hidup.”
- Slug URL: pengalaman-mistis-rahmat-faisal-mata-batin-terbuka
#RahmatFaisal #PengalamanMistik #IndraKeenam #CeritaSupranatural #Kesurupan #KisahNyata #SpiritualJourney #CeritaIndonesia #MistikBekasi #PersonalBranding #KisahHidupRahmatFaisal

