Kisah Sunatan Pertamaku — Pengalaman yang Tak Terlupakan di Tahun 2004 | by A Rahmat Faisal | Oct, 2025

1SIOHC g0Jnacu7YQ8BgR4g.png

Press enter or click to view image in full size

Foto Hanya Ilustrasi

Ada masa-masa dalam hidup yang begitu sederhana namun tak pernah pudar dari ingatan. Salah satunya adalah momen ketika seorang anak laki-laki kecil bernama Rahmat Faisal, di tahun 2004, memberanikan diri untuk menjalani sebuah fase penting dalam hidupnya — sunat.

Bukan sekadar prosesi medis, bukan pula sekadar tradisi. Namun lebih dari itu, sunat menjadi simbol keberanian, kedewasaan pertama yang dialami seorang anak laki-laki di Indonesia, terutama di kalangan masyarakat kampung yang sarat nilai kekeluargaan dan gotong royong.

Awal Keputusan — Antara Takut dan Keberanian

Waktu itu, usia saya masih sekitar kelas 4 SD, mungkin sekitar 10 tahun. Di usia segitu, rasa takut dan keberanian berjalan berdampingan seperti sahabat lama yang suka bertengkar tapi tak pernah bisa berpisah.
Mama sebenarnya sudah lama ingin saya disunat secara pribadi, di rumah, dengan acara sederhana tapi penuh makna. “Biar Mama rayain besar-besaran, Nak,” katanya waktu itu.

Namun entah kenapa, ada rasa takut luar biasa membayangi pikiran saya. Bukan takut jarum atau rasa sakit, tapi takut menjadi satu-satunya anak yang berteriak di ruang sunat sendirian. 😅
Akhirnya, saya memilih cara lain — ikut sunatan massal yang diadakan tak jauh dari rumah. Dalam pikiran polos anak kecil, kalau rame-rame kan lebih seru, bisa saling hibur kalau ada yang nangis. Hehehe.

Persiapan Pagi Itu — Seragam, Peci, dan Sarung Baru

Pagi itu masih segar, udara Bekasi tahun 2004 belum sepadat sekarang. Di rumah nenek di Kampung Dua, Bekasi Barat, saya sudah bangun sejak subuh.
Mama menyiapkan semuanya dengan penuh kasih sayang — baju koko putih, peci, dan sarung baru hasil pemberian panitia sunatan massal.

Nenek menatap saya dengan senyum yang menenangkan, meski matanya tampak sedikit khawatir. “Tenang aja, Sal. Nggak sakit kok, cuma kaya digigit semut,” katanya dengan lembut, mencoba menenangkan cucunya yang mulai gelisah.

Jam sudah menunjukkan hampir pukul enam pagi. Saya dan mama, bersama nenek serta beberapa keluarga lain, berjalan menuju tempat acara sunatan massal. Dari jauh, sudah tampak keramaian — anak-anak dengan wajah tegang bercampur senyum malu, orang tua dengan ekspresi bangga, dan panitia sibuk memanggil nama-nama peserta.

Detik-Detik Menegangkan di Ranjang Operasi

Nama saya dipanggil.
“Rahmat Faisal, nomor peserta 23, silakan masuk.”

Langkah kaki terasa berat. Jantung saya berdetak kencang seperti drum. Dokter menyapa ramah sambil menepuk pundak saya, “Tenang ya, Nak. Bentar aja kok. Lihat aja ke atas, jangan lihat ke bawah.”

Saya rebahkan diri di ranjang operasi kecil itu. Rasanya seperti akan menghadapi ujian hidup yang besar. 😅
Bius mulai disuntikkan, terasa dingin dan sedikit nyeri.
Dalam beberapa detik, saya tak merasakan apa-apa. Tiba-tiba dokter berkata, “Sudah selesai, hebat banget kamu! Nggak nangis!”

Saya menatap ke bawah — ternyata benar sudah selesai! Dalam hati saya bersorak: “Hah? Udah? Gini doang?”
Seketika rasa takut berubah jadi rasa bangga luar biasa.

Pulang dengan Becak — Disambut Penuh Kasih

Selesai prosesi sunat, saya pulang dengan naik becak bersama mama dan nenek. Sepanjang jalan, angin pagi terasa sejuk meskipun badan agak nyeri. Orang-orang di sekitar tersenyum, beberapa tetangga bertepuk tangan kecil melihat saya lewat.

“Wih, Faisal udah disunat ya sekarang!” seru salah satu tetangga.
Saya hanya tersenyum malu sambil memegangi sarung. Hehehe.

Sesampainya di rumah nenek, saya langsung duduk di sofa ruang tamu. Dari situ, suasana ramai sekali — banyak keluarga, tetangga, dan teman-teman datang menengok, membawa hadiah, amplop berisi uang, dan kue-kue kecil.

Nenek terlihat sibuk di dapur, memasak ayam jago, sayur asem, dan sambal terasi — aroma masakan khas kampung yang tak pernah bisa saya lupakan.
Mama sesekali datang ke ruang tamu, memeriksa keadaan saya, memastikan saya baik-baik saja.
Di balik senyumnya, saya tahu mama lega sekaligus haru.

Hadiah, Uang, dan Doa yang Mengalir

Anak kecil mana yang tidak senang diberi hadiah dan uang saku tambahan?
Setiap tamu yang datang menengok, selalu menyelipkan amplop putih kecil sambil mengelus kepala saya. “Cepat sembuh ya, Nak,” kata mereka.

Saya senyum sumringah — bukan semata karena uangnya, tapi karena perhatian dan kasih sayang yang luar biasa terasa.
Rasanya seperti menjadi bintang sehari di tengah keluarga besar.

Mama pun sempat berbisik,

“Lihat kan, Sal? Engkong pasti senang di sana. Kamu udah jadi anak yang berani sekarang.”

Ucapan itu menancap kuat di hati kecil saya.
Meski engkong sudah tiada, saya merasa beliau hadir dan tersenyum melihat cucunya tumbuh berani.

Proses Penyembuhan — Antara Lucu dan Menyakitkan

Masa penyembuhan ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Setiap kali mandi, saya harus memakai air obat PK yang warnanya ungu pekat. Rasanya? Perih banget! Tapi demi cepat sembuh, saya tahan.

Ada juga pantangan makanan yang harus dijaga: tidak boleh makan pedas, tidak boleh makan daging ayam sembarangan, apalagi ikan asin. Tapi yang paling lucu, setiap jalan saya selalu memegangi sarung supaya “si kecil” tidak terkena benturan. 😅
Anak-anak tetangga sering mengejek lucu,

“Eh, Faisal udah disunat yaaa!”
Dan saya cuma nyengir, antara bangga dan malu.

Beberapa hari kemudian, saya mulai bisa jalan dengan normal. Luka mulai mengering, rasa nyeri berangsur hilang. Hari-hari kembali ceria seperti biasa. Dan yang paling saya tunggu-tunggu: bisa sekolah lagi!

Kembali ke Sekolah — Rasa Bangga Tak Terlukiskan

Saat kembali ke sekolah, teman-teman langsung menyambut.
“Eh, Faisal udah sunat!”
“Wih, udah gede sekarang!”

Meski hanya gurauan anak SD, tapi di hati kecil saya terasa seperti naik level — dari anak kecil menjadi “laki-laki sejati”. 😁

Guru pun tersenyum dan ikut memberi selamat.
Saya sadar, ini bukan sekadar prosesi medis, tapi juga bagian dari proses pendewasaan diri. Dari rasa takut menjadi keberanian, dari kebimbangan menjadi keyakinan.

Makna di Balik Kenangan

Kini, dua puluh tahun sudah berlalu sejak hari itu.
Rumah nenek yang dulu ramai kini sudah lebih sepi. Beberapa wajah yang dulu hadir di momen itu kini hanya tersisa dalam doa.

Namun setiap kali saya mengingat masa-masa itu, ada rasa hangat yang menyelimuti hati.
Sunatan massal tahun 2004 bukan sekadar kenangan masa kecil, tapi menjadi simbol awal perjalanan saya sebagai pribadi yang berani menghadapi hidup.

Dari situ pula saya belajar bahwa keberanian bukan berarti tidak takut — tapi tetap melangkah meski ada rasa takut.

Refleksi Dewasa — Warisan untuk Anak-Anak Saya Nanti

Kini, ketika saya sudah beranjak dewasa dan menjadi seorang ayah, saya sering mengenang hari itu sambil tersenyum.
Saya ingin anak-anak saya kelak tahu bahwa setiap perjuangan, sekecil apapun, memiliki makna besar.

Saya ingin mereka tumbuh dengan keberanian yang sama — bukan hanya menghadapi jarum suntik, tapi juga menghadapi kerasnya hidup dengan keyakinan, semangat, dan cinta seperti yang pernah diajarkan oleh mama dan nenek dulu.

Penutup

Hidup adalah kumpulan kenangan kecil yang membentuk siapa diri kita hari ini.
Bagi saya, pengalaman sunatan massal di tahun 2004 bukan hanya kisah masa kecil, tapi bagian dari perjalanan spiritual dan emosional yang mendidik hati saya tentang arti keberanian, cinta keluarga, dan rasa syukur kepada Allah.

Setiap kali mengenang momen itu, saya hanya bisa berkata:

“Terima kasih ya Allah, sudah jaga saya dari kecil hingga sekarang. Dan terima kasih Mama, atas cinta dan pengorbanan yang tak pernah pudar.”

pengalaman sunat massal, kisah sunatan anak SD, nostalgia masa kecil, pengalaman pertama disunat, cerita sunatan lucu, Rahmat Faisal Blog, kisah masa kecil Bekasi, cerita inspiratif masa kecil, sunat massal 2004, pengalaman pribadi

#RahmatFaisal #KisahMasaKecil #SunatMassal #CeritaInspiratif #NostalgiaAnak90an #KampungDua #BekasiBarat #KenanganManis #CeritaPribadi #BlogInspiratif #MotivasiHidup #SunatanLucu #CeritaRahmatFaisal

Keyword utama SEO: pengalaman sunat massal, kisah sunatan anak SD, nostalgia masa kecil, pengalaman pertama sunat, cerita masa kecil Rahmat Faisal

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *