Kendara (Bersama). Jurnal Jiwa #11 | by Amri Faizal M. | Sep, 2025

0ZNqI5u144AA07uqJ.jpeg

Jurnal Jiwa #11

Press enter or click to view image in full size

Photo by Abdul Ridwan on Unsplash

Sudah lama aku tidak menaiki kendaraan umum. Selama ini selalu memakai kendaraan pribadi secara terus. Sebuah momen di mana aku sedang berjalan kaki cukup jauh hingga mencapai pusat kota. Aku yang kelelahan memutuskan untuk menumpang bus saja untuk pulangnya.

Aku yang belum pernah menaiki bus kota ini sebelumnya, berjalan mendatangi halte di pinggir jalan. Aku mendekat ke kursi tiket dan segera mengetahui bahwa pembayaran tunai sedikit lebih mahal daripada menggunakan QRIS. Aku pun mengucapkan tujuanku pada petugas dan langsung dijelaskan kode bus yang akan kunaiki.

Mataku menatap dengan lebar pada selembar peta rute yang ditempel di dinding. Jalur-jalur yang rumit ini, bagaimana awal dibuatnya? Pikirku. Tak terlalu lama, bus yang akan mengantarku pulang tiba. Aku melompat ke dalam bus dari halte. Isi bus hanya terisi sedikit penumpang.

Bus melaju dan berhenti di tempat transit di halte berikutnya. Aku turun dan menunggu bus yang berkode lain lagi. Cukup lama menunggu, akhirnya tiba juga. Aku langsung naik dan memilih duduk di pojok belakang. Lalu, ada seorang nenek yang duduk di sebelahku. Aku tersenyum.

Bus mulai beranjak menuju tujuan berikutnya. Nenek itu membuka obrolan dengan bertanya tentang tujuanku. Nenek juga bercerita tentang cucunya yang juga sedang berkuliah. Lalu, topik bahasan segera meloncat ke hal-hal besar seperti perang dunia hingga materi pelajaran bahasa Inggris. Wawasan Nenek itu sungguh luas karena pernah mengajar bahasa Inggris dahulu. Aku banyak mendengar beliau saja yang akhirnya berpisah karena tujuan kami berbeda.

Percakapan dengan orang tak dikenal menghasilkan obrolan yang apa adanya karena setelah itu hampir bisa dipastikan tidak akan bertemu lagi.

Kesempatan berikutnya, aku juga naik bus kota lagi. Sempat juga bersama teman melalui rute yang baru. Yang kusadari selama menaiki bus kota beberapa kali adalah sering sepi akan isi manusianya. Aku pun terpikirkan lagi, apakah sopir dan kondektur bus itu tidak bosan ketika melalui jalur yang sama setiap harinya?

Minggu lalu, aku mencoba transportasi umum yang lain lagi. Aku naik kereta api untuk pertama kali. Hal ini karena di kabupaten asalku tidak terlewati jalur kereta. Aku naik baja beroda ini bersama kedua temanku dengan tujuan untuk bertamasya ke sebuah kota di provinsi sebelah.

Oh, begini rasanya naik kereta. Tidak banyak halangan, hanya transit di stasiun lain sebentar saja. Tidak terlalu terganggu dengan goncangan di jalanan layaknya mobil atau motor. Aku duduk di sisi kanan kereta yang ternyata membelakangi pemandangan persawahan yang begitu hijau bernaung perbukitan yang bergugus bagus.

Setiap kali berhenti, penumpang ada yang turun, ada yang naik. Penumpang yang tak mendapatkan kursi, terpaksa harus berdiri. Namun, ada prioritas bagi individu yang spesial seperti lansia, disabilitas, ibu hamil, dan ibu dengan anak kecil. Sungguh aku melihat inklusivitas diterapkan di depan mata.

Aku juga memperhatikan nama-nama stasiun yang ada. Melihat orang-orang asing yang berbeda-beda. Mendengar penyiar kereta yang mengumumkan lokasi dan hal-hal penting lainnya. Satu jam lamanya, aku pun akhirnya tiba di stasiun kota tujuan.

Di sana, kami menaiki angkutan kota yang telah terintegrasi seperti bus kota istimewa sebelumnya. Bedanya, di kota ini haltenya tidak banyak dan digantikan oleh plang pemberhentian angkot. Kami berganti-ganti angkot karena tujuan yang banyak pula. Angkot ini juga dibayarkan dengan QRIS atau kartu dengan saldo.

Setelah angkot berjalan, naiklah beberapa penumpang yaitu Ibu-Ibu dari beberapa lokasi yang berbeda. Yang menarik di sini, Ibu-Ibu itu saling mengobrol dan menanyakan tujuan, padahal tidak saling mengenal. Berbagi cerita tentang kegiatan apa yang baru saja dilakukannya.

Aku jadi teringat tulisan Pak Anies Baswedan yang kurang lebih seperti ini. Transportasi umum menunjukkan kesetaraan bagi penumpangnya. Semua orang yang naik transportasi umum itu sama saja, meskipun berbeda pangkat dalam pekerjaan atau latar belakang. Akhirnya, aku lebih mengerti maksudnya.

Pulangnya dari kota itu, aku tidak mendapatkan kursi sebagaimana saat berangkat. Isi kereta penuh, tapi tidak sampai menyesakkan. Kami berdiri berpegangan pada kaitan kuning yang tergantung di atasnya. Sebenarnya tidak apa jika tidak berpengangan karena jalannya kereta yang stabil. Namun, kalau kereta mengerem juga akan repot.

Kami pulang ke arah barat, disambut senja yang hangat. Wajah-wajah yang lelah setelah seharian beraktivitas. Melewati plang-plang rel yang ditunggu oleh pengendara motor dan mobil yang berhenti sejenak untuk menunggu kami dalam kereta api untuk lewat.

Aku terpikirkan (terus) akan angan-angan sistem transportasi di Indonesia. Apakah mungkin jika tidak boleh ada kendaraan pribadi di negara ini?Semua warga negara Indonesia, termasuk presiden dan pejabat harus menggunakaan transportasi umum. Kalau sudah begitu, rasanya transportasi umum tersebut akan dibangun secara merata dan menjangkau seluruh jengkal dari tempat yang membutuhkannya. Di sisi lain, kualitas udara yang buruk akan berkurang juga.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *