Kenapa Aku Berlari Meski Masih Suka Merokok | by Ilham Yahya | Aug, 2025

Hidup sehat itu terdengar mulia, tapi aku belum sampai di sana. Masih ada rokok di saku, jam tidur yang berantakan, dan kebiasaan terbangun di tengah malam seolah tubuhku punya agenda rahasia. Kadang, di malam hari, aku masih menyerah pada godaan cemilan manis — karena entah kenapa, rasanya seperti hadiah kecil dari hidup.
Namun, di tengah semua kebiasaan itu, aku menemukan satu hal yang mengubah cara pandangku: lari.
Awalnya, aku tak pernah menganggap lari sebagai olahraga. Bagiku, lari itu hukuman di sekolah, ketika terlambat upacara atau salah baris saat latihan. Tapi suatu hari, entah bagaimana, aku mulai berlari. Bukan untuk mengejar waktu, bukan untuk kurus, melainkan… untuk bernapas.
Lari itu seperti meditasi.
Kita mesti fokus, mengatur napas, dan yang terpenting: mengalahkan bisikan mental untuk menyerah. Di kilometer pertama, tubuh mulai protes. Di kilometer kedua, pikiran mulai cari alasan untuk berhenti. Tapi entah mengapa, jika berhasil menyentuh garis 5 km, selalu ada rasa kemenangan yang luar biasa — meski hadiahnya hanya keringat yang mengalir dan napas yang ngos-ngosan.
Dan kemenangan itu bukan sekadar angka di aplikasi lari.
Ia adalah perasaan bahwa aku baru saja menuangkan air dari gelas yang hampir meluber — cukup dituangkan, tapi biarkan tetap berisi.
Perjalanan menuju hidup sehat ternyata tidak seperti feed Instagram: potret tubuh bugar dengan pencahayaan sempurna, senyum tanpa peluh, dan caption penuh motivasi. Tidak. Ini lebih mirip perjalanan panjang dengan banyak persinggahan: semangat membara, lalu malas; niat diet, lalu tergoda gorengan; jadwal latihan rapi, lalu batal hanya karena hujan rintik.
Dan di tengah perjalanan ini, aku baru sadar satu hal: bagian dari latihan lari ternyata adalah… istirahat.
Bukan hanya hati yang butuh jeda, tetapi juga tubuh.
Otot kita tidak akan terbentuk saat berlari. Justru saat kita berhenti — memberinya waktu untuk pulih, untuk membentuk jaringan baru — di situlah tubuh kita menjadi lebih kuat. Recovery, begitu para pelari menyebutnya. Tanpa itu, kita hanya akan memaksa tubuh untuk rusak, lalu cedera.
Rasanya memang menyakitkan. Setelah lari dengan intensitas tinggi, otot seperti terbakar. Tapi aku mulai belajar menghargai rasa sakit itu. Karena dari situlah lahir kekuatan baru.
Hidup sehat, rupanya, bukan garis lurus. Ada belokan, ada tanjakan, ada jalan yang membuat kita ingin pulang saja. Tapi tak apa. Yang penting, kita mau memulai.
Dan aku memilih memulai… dari sepasang sepatu lari, langkah di jalan yang masih sepi, dan hati yang mau belajar sabar.
Karena di ujung setiap langkah kecil, selalu ada diriku yang sedikit lebih baik dari kemarin.

