Kenangan Pahit-Manis Bersama Bapak: Kisah Masa Kecil Rahmat Faisal yang Membentuk Pribadi Mandiri | by A Rahmat Faisal | Aug, 2025

Masa kecil adalah bagian hidup yang penuh warna. Ada anak-anak yang tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya, ada pula yang harus menjalani masa kecil dalam kesunyian karena terpisah dari orang tua. Begitulah yang saya rasakan. Setelah perceraian kedua orang tua saya di usia 4 tahun, perjalanan hidup saya pun berubah drastis. Namun di balik kepedihan itu, ada kenangan-kenangan kecil bersama bapak yang hingga kini masih melekat kuat di hati saya.
Artikel ini adalah bagian dari rangkaian cerita hidup saya yang saya tuangkan di blog pribadi rahmatfaisalmediacenter.com, sebagai sebuah jejak perjalanan hidup untuk menginspirasi, menguatkan, sekaligus memperkenalkan siapa saya, A Rahmat Faisal.
Sekitar usia 5 sampai 7 tahun, bapak kembali hadir dalam hidup saya, meski sebatas menengok saya di rumah nenek. Waktu itu, bapak datang malam hari sepulang bekerja. Saya masih ingat jelas wajahnya yang letih, namun senyumnya selalu hangat ketika menatap saya.
Setiap kali datang, bapak tidak pernah lupa membawa buah tangan. Biasanya berupa pisang dan gorengan sate usus serta ati ampela. Siapa sangka, dari situlah lahir makanan favorit saya hingga sekarang. Bahkan sampai hari ini, ketika saya makan bubur ayam Cirebon, saya selalu mencari sate usus dan ati ampela. Tidak tanggung-tanggung, saya bisa menghabiskan 10 tusuk dalam sekali makan! Hehehe…
Makanan sederhana itu kini menjadi simbol kasih sayang bapak. Setiap kali saya menikmatinya, ada rasa haru yang muncul, seakan bapak sedang hadir kembali di samping saya.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Pertemuan dengan bapak hanyalah hitungan jam. Setelah itu, beliau kembali pergi. Berbeda dengan anak-anak lain yang bisa bermain, bercanda, bahkan tidur setiap hari bersama bapaknya, saya hanya bisa menikmati momen itu sekali-sekali.
Ada rasa iri, ada rasa sedih, namun juga ada rasa syukur. Walau tidak selalu bersama, setidaknya bapak masih menyempatkan diri untuk menengok anak tunggalnya. Kehangatan itu menjadi penghibur kecil bagi hati seorang anak yang sebenarnya merindukan sosok bapak setiap waktu.
Sementara itu, mama saya bekerja di Jakarta, jauh dari rumah nenek tempat saya tinggal. Mama hanya pulang seminggu sekali, biasanya hari Sabtu sore, lalu kembali bekerja pada Minggu malam. Waktu kebersamaan kami hanyalah dua hari satu malam setiap minggu. Itulah masa kecil saya — masa penuh rindu, penuh keinginan untuk bisa bersama kedua orang tua, namun harus menerima kenyataan pahit.
Perpisahan orang tua memang menyakitkan. Saya kecil sering merasa kekurangan kasih sayang, tapi di balik itu semua, ternyata ada pelajaran berharga. Karena terbiasa tidak bergantung pada orang lain, saya belajar menjadi pribadi yang mandiri.
Ketika saya ingin sesuatu, saya berusaha sendiri untuk mendapatkannya. Kreativitas pun tumbuh dari rasa keterbatasan itu. Saya percaya, inilah salah satu bekal yang membentuk saya hingga kini — menjadi pribadi yang berani, pekerja keras, dan tidak mudah menyerah.
Di antara kenangan bersama bapak, ada satu momen yang tidak pernah saya lupakan: ketika bapak mengajak saya pulang kampung ke Cirebon. Kami naik bus bersama-sama, dan setibanya di sana, kami menginap di rumah saudara bapak di daerah Plered Sidawangi, Cirebon.
Momen sederhana itu sangat membekas. Saya masih ingat bagaimana rasanya tidur berdua bersama bapak di rumah saudara di Cirebon. Tidak ada mainan mahal, tidak ada liburan mewah, hanya kebersamaan sederhana yang bagi saya lebih berharga daripada apapun.
Kenangan itu menjadi semacam pengikat emosional saya dengan bapak, meski hubungan kami tidak seerat anak dan ayah pada umumnya. Justru karena momen kebersamaan itu langka, maka nilainya terasa jauh lebih istimewa.
Hidup memang selalu mempertemukan kita dengan rasa manis dan pahit secara bersamaan. Pertemuan dengan bapak membawa kebahagiaan, tapi sekaligus juga meninggalkan luka karena tidak bisa berlangsung lama. Saya hanya bisa memeluk kenyataan bahwa masa kecil saya berbeda dengan anak-anak lain.
Namun kini, setelah dewasa, saya justru melihatnya sebagai sebuah pembelajaran hidup. Dari situlah saya belajar betapa pentingnya peran seorang ayah dalam tumbuh kembang anak. Dari situlah saya berjanji, kelak ketika saya memiliki anak, saya akan berusaha hadir dalam setiap momen berharga mereka. Saya tidak ingin anak-anak saya merasakan perihnya kehilangan momen hangat bersama orang tua, seperti yang saya alami.
Kini, ketika saya menulis kisah ini, ada rasa haru yang tak bisa saya sembunyikan. Saya menulis bukan sekadar untuk mengenang, tetapi juga untuk berbagi pelajaran hidup kepada siapa pun yang membaca.
Kehidupan memang tidak selalu sesuai harapan. Namun, setiap pengalaman, seberat apapun, bisa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Bagi saya, kehilangan momen bersama kedua orang tua di masa kecil telah membentuk kemandirian, kreativitas, sekaligus rasa syukur yang mendalam.
Saya ingin kisah ini menjadi pengingat bagi para orang tua di luar sana: hadir untuk anak jauh lebih berarti daripada sekadar memberi materi. Waktu, perhatian, dan kebersamaan adalah hadiah paling berharga yang bisa diberikan kepada anak-anak.
Kisah kecil saya bersama bapak — dengan pisang, sate usus, ati ampela, hingga perjalanan ke Cirebon — adalah potongan puzzle kehidupan yang tidak akan pernah hilang dari ingatan.
Kini, saya menjadikan semua pengalaman itu sebagai bahan bakar untuk melangkah maju. Saya ingin memastikan, di masa depan, saya bisa menjadi sosok ayah yang selalu hadir di setiap momen penting anak-anak saya.
Dan inilah yang ingin saya bagikan melalui tulisan ini: sebuah perjalanan hidup yang tidak sempurna, tapi penuh makna.
- Keyword utama: kisah hidup Rahmat Faisal, masa kecil Rahmat Faisal, cerita inspiratif keluarga, kenangan bersama ayah, personal branding Rahmat Faisal.
- Meta description: “Kisah masa kecil Rahmat Faisal setelah perceraian orang tua, kenangan manis bersama bapak, hingga pelajaran hidup yang membentuk pribadi mandiri dan kreatif.”
- Slug URL: kisah-hidup-rahmat-faisal-kenangan-bersama-bapak
#RahmatFaisal #KisahHidup #CeritaInspiratif #MasaKecil #KenanganBersamaAyah #PersonalBranding #MotivasiHidup #KehidupanNyata #BekasiStory