Hari Aku Pergi, Hari Aku Memulai Hidup yang Baru | by Timetostart | Nov, 2025

Kereta bergerak pelan keluar dari Surabaya menuju Yogyakarta.
Saya duduk di dekat jendela, dan untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, saya mencoba menarik napas panjang dan membiarkan kepala saya tenang.
Yogyakarta adalah kota yang sejak dulu ingin sekali saya datangi.
Kota yang saya bayangkan bisa memberi ruang untuk diam sejenak.
Hari itu akhirnya saya sampai pada perjalanan itu, tetapi hati saya justru sedang paling bising.
Di perjalanan itu, saya menangis tanpa suara.
Ada sesuatu yang pecah dalam diri saya hari itu—pecah dalam diam.
Rasanya seperti berteriak sekeras-kerasnya, tetapi tidak ada satu pun suara yang keluar.
Saya merasa bingung, bingung pada diri saya sendiri, bingung pada hidup yang saya jalani.
Ada sedikit bahagia karena impian kecil saya datang ke Yogyakarta akhirnya terwujud.
Namun rasa itu langsung tenggelam oleh ketidakpastian yang lebih besar dari apa pun yang pernah saya rasakan.
Hari itu saya baru saja meninggalkan tempat yang selama ini saya sebut rumah: perusahaan media yang membesarkan saya, tempat saya memotret, bercerita, dan menaruh seluruh tenaga saya.
Tempat yang dulu saya percaya akan menjadi masa depan saya.
Tetapi saya harus jujur. Belakangan hari-hari saya terasa semakin berat. Tekanan dari berbagai arah membuat saya tidak lagi merasakan kebebasan bekerja.
Saya menanggung beban yang bukan tugas saya, dibebani hal-hal yang menghilangkan ruang bernapas. Kesejahteraan saya tidak pernah benar-benar dipikirkan.
Lama-lama saya merasa kosong. Dan dari kekosongan itulah lahir satu pertanyaan: harus saya perbaiki, atau saya akhiri?
Pertanyaan itu tidak kunjung menemukan jawabannya—sampai malam itu, 1 November, di Blitar.
Saya duduk sendirian di teras lobi hotel setelah selesai bertugas.
Udara malam cukup dingin, tetapi kepala saya tetap terasa panas oleh pikiran yang tidak mau diam.
Di saat saya sedang diam, seseorang menghampiri saya.
Pria paruh baya, wajahnya ramah, caranya bicara perlahan.
Ia bertanya tentang hidup saya.
Tentang pekerjaan saya.
Tentang latar belakang pendidikan saya.
Tentang status saya.
Semua saya jawab apa adanya.
Ia mengangguk pelan, seolah memahami tanpa menghakimi.
Kemudian ia mulai bercerita.
Panjang.
Tenang.
Mengalir.
Tentang dunia bisnis, tentang perjalanan orang-orang besar yang ia kenal, termasuk rekannya yang memiliki jaringan restoran terbesar di Indonesia: Hoka Bento.
Ceritanya bukan sekadar informasi.
Ada sesuatu di balik kata-katanya yang menempel di kepala saya.
Sesuatu yang membuat dada saya terbangun.
Saya sampai bertanya dalam hati, siapa sebenarnya orang ini?
Kenapa ia hadir malam itu, tepat saat saya paling bimbang?
Segalanya terasa terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
Di akhir percakapan itu, ia menatap saya dan berkata, “Kalau nanti sudah menemukan jawabanmu, temui saya lima tahun lagi di tempat ini.”
Dan saya menjawab tegas, tanpa ragu, “Saya sudah yakin, Pak. Saya akan menemui Bapak lima tahun lagi.”
Sejak malam itu, keputusan saya berubah dari kebimbangan menjadi tekad.
Saya tahu saya tidak bisa lagi hidup hanya mengandalkan gaji, hanya menjadi pekerja, hanya mengikuti struktur yang tidak peduli pada batas saya.
Saya ingin berdiri di atas kaki sendiri.
Saya ingin membangun sesuatu yang besar, dari tangan saya sendiri.
Saya ingin menjadi pengusaha.
Saya ingin punya usaha yang meluas ke seluruh Indonesia, kalau bisa sampai Internasional.
Saya ingin mengubah hidup saya.
Lalu 11 November 2025 datang.
Hari itu saya meliput kegiatan di Grahadi.
Foto dan berita yang saya buat terasa berbeda.
Saya bekerja dengan hati yang sedang menuju pintu keluar, mungkin itu sebabnya semuanya terasa lebih jujur, lebih kuat.
Sampai akhirnya karya itu tayang sebagai cover e-paper edisi 12 November 2025.
Itu adalah penutup perjalanan saya di media itu.
Dan saya bangga menutupnya dengan karya yang paling layak berada di halaman depan.
Tanggal 12 November 2025, saya resmi keluar.
Resmi melepaskan semua yang pernah membuat saya nyaman sekaligus membuat saya tertekan.
Resmi memulai langkah yang tidak saya tahu akan membawa saya ke mana.
Yang saya tahu hanya satu: saya mulai dari nol.
Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, nol itu terasa seperti kehidupan yang baru.
Nol yang membuat saya bisa bernapas lagi.
Nol yang membuat saya bisa memilih arah sendiri.
Lima tahun dari hari ini, saya akan kembali ke tempat itu.
Saya akan kembali menemui pria yang memberi saya keberanian.
Dan saat itu tiba, saya harus sudah membawa sesuatu.
Sesuatu yang saya bangun sendiri.
Sesuatu yang bisa membuat saya berkata:
“Terima kasih, Pak. Saya sudah sampai.”

