Gelar Pertama, dari Doa Mereka. Aku tidak pernah benar-benar… | by Raisyal D | Apr, 2026

Aku tidak pernah benar-benar membayangkan akan sampai di titik ini memegang gelar S.Pd, berdiri sebagai sarjana pertama di keluarga kecilku. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena perjalanan menuju sini terlalu tidak pasti untuk bisa diyakini sejak awal.
Stage I : Jalan yang Tidak Pernah Direncanakan
Universitas Pendidikan Indonesia, khususnya Program Studi Pendidikan Sistem dan Teknologi Informasi, bukanlah tujuan yang pernah aku tuliskan dalam daftar mimpi. Bahkan, jujur saja, itu bukan jalur yang aku kenal sebelumnya.
Aku pernah mencoba masuk ke tempat lain, dua kali. Dua kali berharap, dua kali juga ditolak. IPB dan Unpad menutup pintu mereka untukku, dan di saat yang sama, aku juga harus menutup pintu lain yang sebenarnya masih terbuka: hukum dan kedokteran.
Bukan karena tidak ingin, tapi karena aku tahu, ada harga yang harus dibayar, dan orang tuaku tidak seharusnya menanggung beban sebesar itu.
Ayahku hanya seorang karyawan swasta biasa. Tidak ada gelar tinggi, tidak ada jabatan besar. Hanya seseorang yang setiap hari bekerja untuk memastikan dapur tetap mengepul. Dan ibuku, seorang ibu rumah tangga yang pada akhirnya harus turun langsung berjuang ketika keadaan tidak lagi cukup hanya ditopang doa.
Aku masih ingat, di tengah-tengah perjalanan kuliahku, sekitar semester 4, ayahku harus menghadapi realita yang seringkali tidak kita siap: pensiun. Bukan pensiun karena siap, tapi karena usia di dunia kerja memaksanya berhenti.
Sejak saat itu, semuanya berubah.
Ayah mulai mencari cara lain untuk tetap menghasilkan uang. Dari pekerjaan sampingan yang tidak menentu, hingga akhirnya mencoba menjadi agen perumahan yang bahkan penghasilannya pun bergantung pada apakah ada orang yang membeli rumah atau tidak.
Tidak ada kepastian. Tidak ada jaminan.
Di sisi lain, ibuku mulai bangun setiap pukul 2 pagi.
Bukan untuk tahajud saja, tapi untuk memasak nasi uduk. Untuk dijual.
Untuk membantuku tetap kuliah.
Dan aku hanya bisa melihat semuanya sambil diam-diam menahan satu hal: aku tidak boleh gagal.
Karena di belakangku, ada adik yang masih duduk di bangku SD, yang suatu saat juga akan membutuhkan biaya pendidikan. Dan entah sejak kapan, tanpa pernah benar-benar dibicarakan, aku tahu tanggung jawab itu perlahan akan jatuh ke pundakku.
Di titik itu juga, aku mulai mencoba berdiri dengan caraku sendiri.
Sejak akhir 2024, aku mulai mencari penghasilan tambahan dengan cara yang aku bisa. Menjoki tugas, membantu projek orang lain, dari mahasiswa sampai pemilik usaha kecil. Hasilnya tidak besar, bahkan seringkali tidak menentu. Tapi cukup, untuk sekadar membuatku tidak selalu meminta.
Dan di tengah semua itu, ada satu hal yang sampai sekarang aku yakini:
aku sering diselamatkan oleh rezeki yang tidak pernah aku duga.
Aku pernah mendapatkan beasiswa selama dua semester, semester 4 dan 5 yang sangat membantu untuk membayar UKT-ku. Di saat kondisi keluarga sedang tidak baik-baik saja, bantuan itu datang seperti jawaban dari doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.
Karena di rumah, doa mereka tidak pernah putus.
Di setiap lima waktu.
Di sepertiga malam.
Aku punya keluarga kecil yang mungkin sederhana, tapi hangat.
Dan mungkin, tidak semua orang punya itu.
Di titik ini, aku mulai mengerti satu hal:
perjalanan ini bukan hanya tentang aku yang ingin berhasil,
tapi tentang mereka yang tidak pernah berhenti percaya.
Dan mungkin, dari situlah semuanya mulai berjalan, bukan karena aku hebat, tapi karena aku tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Stage II : Terlalu Nyaman, sampai Akhirnya Jatuh
Kalau dipikir-pikir, aku bukan mahasiswa yang ideal.
Dari semester 1 sampai semester 5, aku hidup di zona yang aneh, bukan malas sepenuhnya, tapi juga tidak benar-benar serius sebagai mahasiswa. Aku jarang belajar. Jarang membawa buku. Bahkan sering merasa cukup hanya dengan hadir, memperhatikan, dan aktif di kelas.
Dan anehnya, semuanya tetap berjalan.
Nilai-nilaiku tidak jatuh.
IPK-ku tidak buruk.
Tapi sekarang aku sadar, lagi-lagi itu bukan karena aku hebat.
Itu karena aku beruntung.
Beruntung punya teman-teman yang rajin, yang pintar, yang seringkali “menyelamatkan” tugas-tugas kelompok. Sementara aku, terlalu sibuk di dunia lain.
Organisasi.
Aku tenggelam di sana, menjadi ketua pelaksana kaderisasi tingkat jurusan, masuk ke tim evaluasi di tingkat fakultas, sampai akhirnya dipercaya menjadi ketua himpunan.
Aku menikmati semuanya, merasa punya peran, rasa dianggap, rasa dibutuhkan. Dan mungkin, tanpa sadar, aku mulai merasa cukup dengan itu. Sampai akhirnya aku mengambil langkah yang lebih jauh, yakni mencalonkan diri menjadi ketua BEM kampus.
Aku pikir, dengan semua pengalaman yang aku punya, itu cukup. Tapi ternyata tidak.
Aku kalah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa jatuh, bukan karena jabatannya, tapi karena tamparan yang datang bersamaan:
“aku tidak sebaik yang aku kira.”
Kekalahan itu seperti membuka sesuatu yang selama ini aku abaikan. Bahwa di balik semua aktivitas dan posisi, ada satu hal yang tertinggal jauh diriku sendiri, kemampuanku, hardskill-ku, arahku.
Tamparan itu semakin terasa ketika aku masuk semester 6.
Aku mulai mencari tempat magang dan kesulitan, portofolioku kosong, hampir tidak ada yang bisa aku banggakan selain riwayat organisasi. Aku melamar ke enam perusahaan, dan hanya satu yang menerima.
Dan entah kenapa, dari semua kemungkinan yang ada, itu adalah tempat yang bahkan tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, PT Pupuk Kujang. Di sana, realita benar-benar tidak bisa ditawar lagi. Aku dipaksa melihat diriku apa adanya.
Sudah lima semester aku kuliah, tapi aku tidak bisa coding, di saat orang lain sudah punya skill, aku baru mulai dari nol, dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar tertinggal, tidak ada lagi tempat bersembunyi di balik “aktif organisasi”, tidak ada lagi rasa cukup.
Yang ada hanya satu pilihan:
berubah, atau terus tertinggal.
Dan di titik itu, aku memilih sesuatu yang selama ini jarang aku lakukan :
memaksa diriku sendiri.
Stage III : Memaksa diri untuk Bertumbuh
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Magang di PT Pupuk Kujang bukan hanya soal bekerja, tapi tentang bertahan. Tentang bagaimana aku harus beradaptasi dengan ritme yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tidak punya pilihan selain belajar.
Belajar coding dari nol.
Belajar memahami sistem kerja.
Belajar mengejar ketertinggalan yang selama ini aku abaikan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar memaksa diriku sendiri.
Ada hari-hari di mana aku belajar hampir 12 jam. Bukan karena aku ingin terlihat hebat, tapi karena aku tahu, aku sudah terlalu jauh tertinggal untuk berjalan santai. Perlahan, semuanya mulai berubah.
Aku mulai memahami apa yang dulu terasa asing. Aku mulai menyelesaikan jobdesk dengan lebih percaya diri. Aku mulai membangun sesuatu, projek fullstack yang akhirnya menjadi portofolio pertamaku.
Empat bulan itu tidak mudah. Tapi dari sana, aku mulai melihat versi diriku yang baru.
Versi yang mau belajar.
Versi yang mau berproses.
Versi yang tidak lagi lari dari kenyataan.
Masuk semester 7, aku kembali mengambil keputusan yang tidak biasa.
Aku memilih jalur riset.
Banyak yang bilang ini jalan yang lebih sulit. Tapi entah kenapa, lagi dan lagi, aku merasa ini adalah jalan yang memang “dipersiapkan” untukku.
Aku mengerjakan penelitian tentang chatbot untuk pendidikan Islam NURRA. Dari sana, aku belajar banyak hal baru. Bertemu dengan orang-orang yang jauh lebih hebat dariku, validator, dosen pembimbing, kakak tingkat, dan teman-teman yang tanpa sadar ikut membentuk prosesku.
Aku belajar bahwa berkembang itu tidak harus sendirian. Kadang, kita hanya perlu cukup rendah hati untuk belajar dari siapa saja. Dan dari semua proses itu, sesuatu yang dulu terasa mustahil akhirnya terjadi, penelitianku berhasil dipublikasikan di SINTA 3.
Dan aku, berhasil menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari yang seharusnya. Sekitar 3,7 tahun. Sebuah perjalanan yang tidak pernah aku rencanakan, tapi entah bagaimana, bisa aku selesaikan.
Kalau dipikir-pikir, hidupku selama kuliah ini penuh dengan hal-hal yang tidak seimbang.
Aku pernah terlalu santai.
Aku pernah terlalu sibuk dengan hal yang salah.
Aku pernah jatuh, kalah, dan merasa tertinggal.
Tapi di saat yang sama, aku juga diberikan banyak hal baik.
Rezeki yang datang di waktu yang tepat.
Orang-orang yang membantu tanpa diminta.
Dan keluarga, yang tidak pernah berhenti mendoakan.
Ada satu lagu yang selalu terasa dekat dengan ceritaku.
“Gemilang” dari Perunggu.
Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali mendengarnya, aku merasa seperti sedang melihat kembali semua perjalanan ini, yang tidak sempurna, tapi tetap berjalan.
“Pasti doamu yang lancarkan upayaku
Mesti doa yang meluncur dari bibirmu
Dan yang kutahu kau takkan pernah berhenti
Tumbuhku kini semoga sesuai yang kau impi”
Mungkin, itu saja intinya.
Bukan tentang siapa yang paling cepat, bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi tentang siapa yang tetap bertahan sampai akhir.
Dan hari ini, aku bisa bilang:
aku sudah sampai.
Untuk ayah dan ibu,
terima kasih untuk setiap pengorbanan yang tidak pernah kalian hitung.
Untuk doa-doa yang tidak pernah kalian lewatkan.
Gelar ini, bukan sepenuhnya milikku.
Dan untuk semua hal yang pernah terjadi, baik yang menyakitkan maupun yang membahagiakan, terima kasih sudah membentukku sampai di titik ini, terimakasih UPI Purwakarta, baik buruk yang sudah terlewati aku tetap sepenuhnya mencintai UPI Purwakarta sepenuhnya.
Aku juga ingin bilang satu hal kecil:
aku suka sekali lagu ini.
Karena di dalamnya, aku merasa ada sedikit bagian dari ceritaku.

