First Trip with FT: Tawangmangu and Solo | by Diarykusha | Nov, 2025

So, here’s the story,
Sebelum berangkat, kita sepakat kumpul di rumah Nira sekitar jam 7 pagi. Hari itu alhamdulillah cerah banget dan cuacanya nggak begitu panas, jadi cukup bersahabat.
Perjalanan kali ini, kita rencana berangkat dengan dua mobil — dipisah antara cewek dan cowok. Jujur, rasanya udah kaya di asrama aja wkwk, tapi yaudahlah, ruangnya emang nggak cukup kan. Walaupun, kekurangannya cuma satu: sepanjang perjalanan, obrolan kita jadi kaya kepisah dua dunia. Nggak bisa ngomong banyak, kecuali kalo udah bareng. Pantes aja, di trip berikutnya kita langsung sepakat buat sewa hiace hahaha.
Perjalanan Surabaya-Tawangmangu biasanya memakan waktu sekitar tiga jam. Tapi karena kita ngebut di tol, jadi kaya cepet banget. Nira bahkan tidur di sepanjang jalan, jadi perjalanan ini bagi dia mungkin cuma kedipan mata pertama dan kedua deh kayanya.
Di tengah perjalanan, kita berhenti di sebuah rumah makan karena belum pada sarapan. Aku lupa nama tempatnya apa, tapi ayam bakarnya enak banget sih — atau mungkin kita aja ya yang kelaparan? tapi tetep enak sih. Terus, kita sempat minta tolong difotoin, tapi hasilnya… yaudahlah, kita anggap aja itu kenangan😇. Untung sopir Nira masih bisa menyelamatkan satu-dua foto. Jadi ya okelah, dimaafkan.
Setelah lanjut jalan, sampailah kita di tanjakan menuju Tawangmangu. Di situ ada drama kecil: mobil Rafi nggak kuat naik anjay. Bener-bener mobil dia berusaha banget buat nanjak, terus kita yang ngelihat juga jadi ikut tegang. Sayangnya, momen itu cuma disaksikan oleh kita bertiga (aku, Riri, Naila) dan sopir Nira. Sementara Nira? Ya masih tidur dengan tenang lah. Bener-bener ya nih anak tidur mulu jir.
Nggak lama kemudian akhirnya sampe deh di Telaga Sarangan.
FYI, telaga ini berada di ketinggian sekitar 1.200 mdpl dan dikenal juga sebagai Telaga Pasir. Katanya, di sini ada beberapa cerita dan mitos yang beredar di masyarakat setempat, tapi ya namanya juga mitos — entahlah, benar atau nggak, anggap aja bagian dari folklore daerah wkwk.
Cuacanya waktu itu cukup sejuk dan sedikit berkabut, bikin suasananya adem dan enak buat santai. Tapi karena kita datengnya pas weekend, telaganya lumayan rame. Terus, di sekitar area juga banyak yang nawarin jasa naik kuda dan speedboat gitu buat keliling telaganya. Dan… kita pun ngikut — since kita berdelapan, kita lebih milih naik speedboat.
Setelah itu, kita cobain makan sate kelinci — jujur ini pertama kali buat aku. Dan… ternyata aku nggak suka. Rasanya mirip sate ayam tapi ada aftertaste aneh yang bikin aku mual. Terus aku kaya terbayang-bayang kelinci yang selucu itu dibuat sate😭omg. Habis makan sate itu (walaupun aku nggak jadi makan), kita beli es krim cone warna-warni kaya yang dijual di SDku dulu. Kita cuma beli dua aja buat berempat, soalnya kalo banyak-banyak nanti batuk. Hahaha udah kaya ibu-ibu nggak tuh.

