Bahkan, Sekadar Juara Dua pun Aku Tidak Dapat | by Nur Amaliah Putri | Sep, 2025

Dari banyaknya hal di dunia, aku rasa sebagian besar dari kita sepakat bahwa kata ‘hampir’ itu tidak pernah cukup.
Kata orang, dunia ini adil.
Semua orang mendapat jatah ketidakadilannya masing-masing dan itulah sebabnya dikatakan adil. Entah dari mana paradoks ini berasal, mungkin hanya bentuk pembenaran atas nasib sial yang terselip dalam jalinan hidup kita.
Barangkali, jatah ketidakadilan dalam hidupku adalah tidak pernah terpilih.
Bukan,
Aku bukan caleg, asal tahu saja.
Di antara berbagai emosi yang bisa kita rasakan, rasa bahagia karena dikagumi, bangga karena diperjuangkan, dan menang karena akhirnya dipilih untuk menjadi sosok istimewa di hati seseorang sepertinya terletak jauh sekali dariku. Bahkan, drama komedi romantis murahan saja terlihat lebih bermartabat dibanding kisahku.
Ada suatu masa ketika kita bertemu sosok yang memikat, tapi tidak terlalu. Ia terasa tidak mencolok, tapi cukup menenangkan. Indah, tapi terasa mudah, terasa seperti … tergapai. Lalu harapan-harapan itu tumbuh begitu saja di antara hari-hari biasa, di antara senyum ramahnya, di antara sinyal hijaunya yang tampak samar. Aku menabur pupuk kepercayaan pada harapan itu hingga ia tumbuh makin tinggi. Harapan yang indah, yang aku tidak tahu suatu hari nanti akan patah.
Seperti judul tulisan ini, kau pasti sudah menduga bahwa harapan itu memang patah. Bukan sekali, kisah hidupku seperti pemotor tong setan yang selalu berputar di poros yang sama, selalu mengulangi lingkaran yang sama. Sejak aku masih gemar mencoreti bangku sekolahku dengan tip-ex sampai usiaku hampir seperempat abad, aku selalu berkutat dengan cerita yang sama. Senyum ramah, sinyal hijau, lalu patah.
Tahu apa yang lebih sesak?
Tahu sumedang, ehhh …
Maksudku, orang yang membuatku memupuk harapan setinggi menara sutet itu pada akhirnya selalu berlabuh di hati … anu … temanku sendiri. Sepertinya pernyataan itu sudah cukup kuat menjadi legitimasi untuk menyebut diriku sendiri sebagai wong kalah.
Apa aku menerima ini sebagai bentuk jatah ketidakadilanku? Yah, mau tidak mau.
Atau, kemungkinan baik lainnya adalah ini sama sekali bukan jatah ketidakadilanku, hanya saja ini memang belum waktunya bagiku. Barangkali jalanku lebih panjang, lebih jauh. Akan tetapi, aku juga sedang dibentuk menjadi sosok yang lebih kuat dan lebih layak. Tidak apa-apa, aku masih bisa menciptakan punchline-punchline kocak untuk ditertawakan bersama diriku sendiri.
Aku kuat,
Aku punya aku.

