Apakah Merasa Cukup Maknanya Sudah Cukup? | by Irwan | Nov, 2025

1763094313 bc1f8416df0cad099e43cda2872716e5864f18a73bda2a7547ea082aca9b5632.jpeg

Benar kata pepatah lama, “Bukan soal seberapa banyak kuantitasnya, tetapi sebaik apa kualitasnya.”

April 2025, saya memutuskan untuk kembali bekerja di suatu Museum dan Galeri Jakarta. Sebetulnya, kali pertama saya diterima bekerja di sini pada akhir 2023. Saat itu saya sedang tergabung dalam sebuah proyek budaya yang kebetulan masih dalam satu naungan Kementerian yang sama. Jujur saja, ini pekerjaan pertama saya di sebuah instansi sehingga saat itu saya benar-benar belajar semuanya dari nol. Isi kepala saya hanya ingin melakukan yang terbaik, berusaha menjadi gelas kosong, mengerjakan semuanya dengan ikhlas, dan perasaan yang bahagia. Saya yakin apa yang telah Tuhan berikan, itu adalah sebuah tuntunan dan amanah yang baik. Walaupun semuanya pasti memiliki risiko buruk, setidaknya semuanya diakhiri dengan baik.

Saya memahami manusia itu sangat kompleks, semua memiliki pendapat dan jalan berpikirnya sendiri. Akan tetapi, suasana bekerja saat itu agak jauh berbeda. Hampir semua orang merasa dirinya hebat, lupa untuk mengosongkan gelasnya masing-masing. Ada beberapa kalimat yang terlontar dari ucapan atau lelucon mereka, entah disengaja atau tidak. Namun, ada satu hal yang cukup menggelitik “otak tertawa” saya, yaitu,

“Yaelah, kerja kayak gini mah gampang aja, cuma berdiri, ngomong, senyum, bercanda.. nanti juga dibayar.”

Kalau boleh jujur, saya cukup kaget mendengar kalimat itu terucap dari mulutnya. Bagaimana tidak, selama bekerja dalam satu shift yang sama dengannya — saya selalu mendengar kisah hidupnya, termasuk sebegitu banyak pengalaman magang dan bekerja yang ia miliki. Saya pikir, orang yang hebat itu pasti rendah hati, seperti cerita di film. Namun, agaknya tidak semua seperti itu. Mulai dari kejadian itu, kacamata penilaian saya terhadap seseorang itu makin kritis, serta berusaha untuk tidak cepat menilai dari perangainya saja, apalagi hanya dari tampilan fisik.

Ada satu hal yang mulai saya sadari, sepertinya lingkungan kerja sangat berpengaruh besar terhadap diri seseorang, terkecuali mereka yang berprinsip. Selama saya bekerja bersama mereka, sebetulnya tidak semua orang bersikap semaunya. Tetapi, ada satu orang pemicu sehingga menyebar ke tiap orang lainnya. Fenomena ini umumnya sudah lumrah terjadi di lingkungan bekerja, bahkan ada penelitian sosial yang pernah saya baca terkait hal ini. Jadi pelan-pelan saya mulai memahaminya.

Setelah kontrak pekerjaan itu berakhir, saya baru bisa sedikit menilai bahwa sebanyak apapun pengalamanmu, setinggi apapun pendidikanmu, sepopuler apapun kamu, setua apapun usiamu, bahkan sebagus apapun latar kehidupanmu; jika kamu belum bisa memanusiakan manusia lain, bahkan masih belum mampu menghargai orang lain, tetap saja kamu hanya sebuah tong besar yang bocor— sulit diisi penuh karena ada bagian yang rapuh ulah dirimu sendiri.

Bagi saya, sulit bagi manusia untuk menghargai sesuatu hal yang kecil karena terlalu fokus pada hal yang besar. Sulit untuk melihat yang baik karena terlalu mendabakan yang terbaik. Seperti merasa cukup tidak selalu bermakna cukup karena selalu ada kurang dan lebih, mungkin bijaknya rasa syukur karena bagi mereka yang bersyukur akan selalu menerima kurang dan lebihnya.

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *