2024 | The Year of Roots. “Terkadang bumi perlu hening sebelum… | by Managerialcurv | Oct, 2025

“Terkadang bumi perlu hening sebelum benih tahu arah cahaya.”
Tawa, canda, kebebasan dan kebahagiaan seakan terenggut dalam sekejap, langkahku tidak lagi seiring dengan kemauan orang lain, keberanianku tidak lagi ku pertaruhkan untuk hal yang tidak menentu layaknya manusia yang sedang dalam proses pencarian jati diri dengan hanya mengedepankan ego semata.
“Aku mulai mendengar denyut kecil dalam diriku, samar tapi terdengar jujur”, merupakan suatu anugerah Tuhan yang aku dapat ketika diberi kesempatan mengenali diri dan bahkan lebih jauh lagi, dengan pengalaman yang menuntut aku untuk mengambil keputusan besar, hanya dengan suara kecil yang terdengar samar. Perlahan ku tata iringan langkahku yang tidak jauh dari ambisi dan pencapaian, namun melekat erat dengan penindasan. Aku berjalan dengan kesadaran, dan dalam-nya penilaianku terhadap suatu hal, yang membawaku tanpa terasa hanyut dan hampir karam, disisi lain karamnya yang tampak samar dimata orang, terkadang membuatku buta. Tersadarku sudah ada diujung telaga, yang membuatku termenung dalam kehampaan atas apa yang membuat dunia ini tampak kabur.
Semua tawa tampak lebar dalam iringan tapakku yang bergerak dengan ketulusan. Sayangnya, aku bisa melihat kebohongan dan gesekan yang tidak seiring dengan apa yang mereka tampilkan dihadapanku. Lucunya, mereka yang ku usahakan kini berbalik arah, dan anehnya, aku tidak masalah atas itu.
Diam, termenung, dan didalam kesendirian aku menemukan apa yang seharusnya diperjuangkan. Bukan tentang nama baik atau validasi semata, tapi atas bagaimana tetes airmata itu kembali jadi tawa. Bukan untuk aku, apalagi mereka yang berke-Tuhan-an uang. Tapi atas tangis mereka yang kenyang-nya dari mengais, dan atas tuduhan sampah yang dilakukan oleh para Nabi terhadap pengikutnya, hahaha.
“Setelah semua hiruk pikuk, aku belajar kembali berjalan pelan, menjejak tanah tanpa tujuan muluk.”
Berjalanan beriringan dengan luka, cideraku kembali diingatkan dengan masif-nya gema atas tuduhan dan fitnah yang menimbun ubunku. Banyak ditemani, ramai, riuh, tapi terasa sepi dan sendiri. Lebih jauh lagi, banyaknya kebingungan membuat aku nyaman dalam sepi, sayangnya afirmasi atas fitnah, membuatku takut semakin menyakiti.
Getaran membingungankan itu kembali hadir, dan membangkitkanku lagi sebelum pulih yang kutunggu itu datang. Masih dengan diri yang dirundung ambisi yang sama seperti sebelumnya, yang kini terasa pahit kutelan setelah jauh aku menyebrang jalan. Kini, tanpa tuju aku berjalan.
“Ada sesuatu yang ingin tumbuh, tapi aku belum tahu bentuknya.”, ditengah akhir perjalanan riuh-ku, hanya termenung dan ya semesta bekerja, diberinya aku waktu beristirahat, tenang, dan diam. Entah kapan aku dibangunkan kembali setelah istirahatku.
Tidak lagi seberisik sebelumnya, aku berfikir “Mungkin awal dari segalanya adalah keberanian untuk diam — dan mendengar.”

