#1 B-Side. Sebuah piringan hitam itu selalu punya… | by π‘«π’Šπ’‹π’Šπ’‚π’“π’š ΰ£ͺ𖀐.ᐟ | Aug, 2025

1756061767 bc1f8416df0cad099e43cda2872716e5864f18a73bda2a7547ea082aca9b5632.jpeg

Sebuah piringan hitam itu selalu punya dua sisi. Sisi pertama itu jadi bagian yang sering banget diputar duluan. Di situ juga lagu unggulan tinggal — yang iramanya sudah diperkenalkan ke dunia, diputar di radio, yang dikenal dan dinyanyikan sama banyak orang. Labelnya jelas, A-Side. Tujuannya juga sudah pasti.

Tapi, di sisi sebaliknya tersembunyi lagu-lagu yang gak selalu disebut. Lagu yang hadir bukan untuk jadi hit, tapi hanya untuk mengisi ruang saja. Lagunya mungkin tidak pernah diputar kecuali oleh mereka yang sengaja mencarinya. Lagunya tidak keren, tapi jujur. Tidak sempurna, tapi terasa. Pokoknya, lagu yang bukan untuk semua telinga deh!.

Di sisi A atau A-Side, semua lagunya terdengar aman, sudah dipoles rapi. Tentunya juga sudah melewati berlapis revisi dan juga ekspektasi. Lagu-lagu itu tahu ke mana mereka harus pergi — ke udara, ke toko baju dan sepatu, ke coffee shop hits Jakarta, bahkan sampai ke kepala orang-orang yang berkerumun di Stasiun Sudirman saat peak hour.

Sementara itu, sisi B atau B-Side biasanya terdiri dari beberapa lagu yang lahir tanpa rencana. Kadang ditulis dalam satu malam, kadang juga direkam hanya sekali. Tidak ada niat untuk menjadi besar, tapi ya, hanya ingin menjadi. Mereka tidak selalu tercatat dalam sejarah album, tapi hadirnya menyempurnakan putaran.

Sisi B itu tidak berisik, tidak memaksa juga untuk dikenali. Tapi ia menyimpan suara-suara yang tidak berani dikatakan di tempat lain. Kesedihan yang terlalu personal atau harapan yang terlalu sederhana — seperti makan mie instan berkuah dengan cabai rawit dan telur setengah matang setelah menerjang hujan deras di jalan, misalnya. Lagu-lagu di sisi B itu juga jarang jadi favorit banyak orang, tapi sering jadi rahasia kecil para pendengar setia, kayaknya karena terlalu relate dengan kenyataan.

Beberapa orang bahkan percaya, kalau sisi B itu justru menyimpan kejujuran yang tidak bisa ditaruh di sisi A. Karena tidak semua hal bisa bertahan di bawah lampu sorot. Ada juga yang harus hidup di baliknya — agar tidak kehilangan bentuk aslinya.

Mereka tidak marah kok karena tidak jadi unggulan. Tidak sedih juga karena jarang diputar. Tapi mereka tahu, tempat mereka memang bukan di awal, tapi juga bukan di akhir. Mereka ada di seberang — menunggu giliran diputar, atau mungkin tidak pernah nunggu apa-apa.

Balik lagi, karena tidak semua orang memutar sisi B.

Banyak yang merasa sudah cukup dengan sisi pertama, yang rapi, yang ditawarkan, yang dipromosikan. Tapi bagi sebagian kecil pendengar, justru di sisi sunyi itulah mereka menemukan yang paling manusiawi.

Sebab di sana, lagu tidak dibuat untuk dijual — melainkan untuk disampaikan.

Tapi ini bukan soal kaset atau vinil,

Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *